JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 30 November 2022

4 Teladan Sifat Pemimpin yang Diajarkan Rasulullah SAW

Editor : S. Dian Andryanto


Ilustrasi salat. ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Sebagai seorang pemimpin umat Islam, Rasulullah Saw memiliki pola atau model kepemimpinan yang dapat diterima seluruh masyarakat beragam etnis, ras, dan agama. Karenanya, sebagai umat muslim, terutama yang ingin menjadi pemimpin, sudah selayaknya menjadikan pola Rasulullah sebagai kiblat dalam memimpin.

Teladan Sifat Rasulullah sebagai Pemimpin

Semasa hidup dan memimpin umat, Rasulullah memegang teguh empat sifat: shiddiq, amanah, tablig, dan fathanah. Merangkum Maghfirah Pustaka di situs resmi maghfirahpustaka.id, berikut penjelasan dari empat sifat kepemimpinan Rasulullah tersebut:

1. Shiddiq

Shiddiq artinya jujur. Kejujuran adalah sikap utama yang selalu dipegang Rasulullah dalam memimpin, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat jujur dan jauh dari dusta.

Kejujuran ini pula yang semestinya tertanam dalam diri setiap pemimpin. Pemimpin yang jujur tidak akan membohongi rakyat dan jauh dari pencitraan. Ia akan jujur kepada dirinya sendiri maupun kepada rakyat, sebab pemimpin yang jujur paham bahwa kejujuran akan membawa kebaikan dalam segala hal.

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Amanah

Amanah artinya mampu menjalankan sekaligus menjaga kepercayaan yang diembankan di pundak secara profesional. Sikap amanah sudah mengakar kuat pada diri Rasulullah semenjak beliau masih berusia sangat belia. Bahkan pada detik-detik terakhir hijrah dari Makkah menuju Madinah, Rasulullah masih berpesan kepada Ali ibnu Abi Thalib untuk mewakili beliau memulangkan semua barang dan harta titipan warga Makkah.

Sifat amanah ini juga yang seharusnya dimiliki orang yang ingin menjadi pemimpin. Pemimpin yang amanah akan menyadari bahwa ia mengemban amanah untuk melayani kepentingan rakyat, bukan menjadi pelayan kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, kepentingan partai, kepentingan pemilik modal, atau bahkan kepentingan asing. Ketidakjujuran, ingkar janji, dan kegagalan mengemban amanah adalah ciri orang munafik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Tabliq

Tabliq adalah menyampaikan kebenaran dan berani mengungkap kebathilan. Kepemimpinan Rasulullah ditopang oleh sikap transparansi, keterbukaan, dan selalu menyuarakan kebenaran apa pun risikonya. Sehingga beliau bersikap terang-terangan dalam menyampaikan kebenaran, dan mengundang kemarahan para pemuka kafir Quraisy.

Suatu hari, delegasi Quraisy pun datang menemui Abu Thalib untuk memberikan tawaran menggiurkan kepada Rasulullah asal beliau berhenti berdakwah. Namun, Rasulullah menanggapi mereka dengan memberikan pernyataan tegas seraya memberikan sebuah ilustrasi indah yang memupuskan mimpi delegasi Quraisy.

“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka letakkan mentari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, hingga Allah memenangkannya atau aku binasa bersamanya, aku tetap tidak akan mau meninggalkannya.” (HR. Baihaqi).

Seorang pemimpin harus memiliki sifat tabligh ini. Selain berani menyuarakan kebenaran dan berani dinilai secara kritis oleh rakyat, pemimpin yang tabligh juga tidak bisa dibeli dengan kekuatan apa pun. Ia tegas dalam pendirian dan tegar dalam prinsip membela kebenaran.

4. Fathanah

Fathanah artinya cerdas. Kecerdasan, kemampuan menguasai persoalan dan mengatasi masalah mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan arahan, menentukan kebijakan, dan mengambil keputusan selalu mendasarkan pandangan beliau pada ilmu.

Seorang pemimpin harus cerdas dan berilmu. Dari pemimpin yang cerdas dan berilmu akan lahir kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bukan kebijakan yang merugikan dan menyengsarakan rakyat banyak.

DELFI ANA HARAHAP

Baca: Rasulullah Telah Mengajarkan Tipe Kepemimpinan yang Adil dan Amanah

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 30 November 2022