JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 30 November 2022

Jangan Bingung Hisab dan Rukyat Hilal Tentukan 1 Ramadan, ini Landasan Keduanya

Editor : S. Dian Andryanto


Santri saat memantau hilal menggunakan teleskop di Masjid Al-Musyari'in, Jakarta Barat, Jumat, 1 April 2022. Pemantauan hilal tersebut guna menentukan awal Ramadhan 1443 Hijriah. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Ada dua metode berbeda untuk menentukan awal masuknya Ramadan, yaitu dengan Hisab dan Rukyat Hilal. Lantas apa perbedaan keduanya? Apa sebabnya awal puasa bisa jatuh di tanggal yang berbeda?

Diketahui Kementerian Agama RI menetapkan 1 Ramadan 1443 Hijriah atau awal puasa 2022 jatuh pada Minggu, 3 April 2022. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan keputusan ini diambil dalam sidang Isbat yang diikuti oleh Komisi VIII DPR, ormas Islam, dan perwakilan negara tetangga. "Ketinggian hilal di seluruh Indonesia ada pada posisi 1 derajat sampai 2 derajat, 2 menit," kata Yaqut, Jumat, 1 April 2022.

Sebaliknya dengan Muhammadiyah telah melaksanakan ibadah puasa terhitung sejak, Sabtu, 2 April 2022. Kedua mendapatkan kesimpulan dan tanggal berbeda dikarenakan menggunakan perhitungan masuk Ramadan yang berbeda pula.

Rukyat sendiri merupakan aktivitas mengamati hilal, yaitu penampakan bulan tsabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya Ijtima’ (konjungsi), rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Rukyat dapat dilakukan setelah matahari terbenam atau saat magrib karena intensitas cahaya hilal sangatlah redup dibandingkan dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis.

Dilansir dari ms-aceh.go.id, Rukyat Hilal merupakan kriteria penentu awal bulan kalender hijriyah dengan cara merukyah atau mengamati hilal secara langsung. Apabila hilal tidak terlihat atau gagal, maka bulan digenapkan menjadi 30 hari. Cara ini berpegangan pada hadits Nabi Muhammad :

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Di Indonesia Rukyat Hilal Indonesia ini digunakan oleh Nahdatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasul dan para sahabat serta mengikuti ijthad ulama dari empat mazhab. Hingga kini hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan hijriyah.

Sementara itu, dikutip dari jurnal oleh Dosen STAIN Kudus menurut istilah, hisab adalah perhitungan benda-benda langit untuk mengetahui kedudukannya. Apabila hisab ini dalam penggunaannya dikhususkan pada hisab waktu atau hisab awal bulan maka yang dimaksudkan adalah menentukan kedudukan matahari atau bulan sehingga diketahui kedudukan matahari dan bulan tersebut pada bola langit pada saat-saat tertentu

Dalam Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak atau astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender hijriyah. 

Kelebihan hisab yaitu dapat menentukan posisi bulan tanpa terhalang mendung, kabut dan sebagainya. Dengan hisab dapat diketahui kapan terjadinya ijtimak (conjunction), apakah bulan itu sudah di atas ufuk atau belum, dengan hisab pula dapat dibuat Kalender Hijriah tahunan secara jelas dan pasti, sedangkan kelemahan hisab yaitu masih terdapat bermacam- acam sistem perhitungan, yang hasilnya akan berbeda-beda.

ANNISA FIRDAUSI 

Baca: Ini Beda Rukyatul Hilal dan Hisab untuk Tentukan 1 Ramadan

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 30 November 2022