JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 4 Agustus 2021

Menggoda, Makanan Ini Bikin Batal Pemudik di Jalur Karawang  

Reporter :

Editor : Dewi Rina Cahyani


Selasa, 14 Juli 2015 20:52 WIB

TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

TEMPO.CO, Karawang - Mudik menjadi saat yang ditunggu-tunggu oleh para perantau. Mereka rela menempuh jarak hingga ratusan kilometer, menggunakan kendaraan pribadi atau umum untuk bertemu sanak keluarganya di kampung.

Tiga hari menjelang lebaran, jalur Karawang termasuk salah satu yang ramai dilalui pemudik. Kebanyakan adalah pemudik bermotor.

Di sekitar jalur Karawang, banyak warung di pinggir jalan yang digunakan untuk beristirahat. Salah satunya adalah warung milik Ano Ratno.

Adalah serabi hijau bikinan Ano yang membuat pengunjung terlihat ramai mendatangi kedai ini, meski di siang hari saat bulan puasa. Aroma pandan meruap dari serabi yang masih panas. Kuah kinca dari gula merah yang manis, menjadi teman yang cocok dengan serabi rasa gurih itu.

Godaan serabi membuat dua pemudik, Tono dan Imam mampir ke warung Ano. Pada Senin siang yang terik, 13 Juli 2015, mereka melahap serabi tanpa malu-malu. "Lumayan mas, bisa memulihkan tenaga lagi. Perjalanan masih panjang," kata Tono.

Ano menuturkan, saat bulan puasa, justru serabinya laku keras. Biasanya, dia membuka warungnya pukul empat sore selama puasa. Namun di penghujung bulan, dia membuka warung lebih cepat. "Biasanya pemudik kan tidak puasa, suka ada aja yang beli siang-siang," ujar Ano.

Jika pada hari biasa Ano menyiapkan delapan kilo adonan serabi, maka saat puasa ia harus menambah adonannya. "Bisa nambah tiga atau empat kilo adonan lagi," ujar dia.

Dari delapan kilogram adonan, bisa menjadi 500 buah serabi. Satu rangkap serabi (isi dua keping) dijual Rp 2.500. "Sebungkus harganya lima belas ribu, isi dua belas," kata Ano.

Bila Ano menangguk rejeki selama puasa, berbeda dengan pedagang di Pantura. Sejak beroperasinya tol Cikopo-Palimanan, sejumlah pedagang asongan di gerbang tol Cikopo-Jakarta justru terancam gulung tikar.

Soleh, salah satu pedagang mengatakan, omset turun hingga sepertiganya. "Sebelum ada tol Cipali, hasil jualan di atas bus per harinya rata-rata mencapai Rp 150 ribu, sekarang paling banter dapet Rp 50 ribu," kata Soleh.

Dari total 40 pedagang asong yang biasa berjualan di pintu gerbang jalan tol Jakarta-Cikopo, kini hanya tersisa 30 orang. Menurut Soleh, teman-temannya banyak yang mencari ladang usaha lainnya.

HISYAM LUTHFIANA | NANANG SUTISNA

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 4 Agustus 2021

Terpopuler