Mengenal Masjid Cikoneng Menes, Pusat Syiar Islam di Banten

Reporter

Masjid Cikoneng yang berlokasi di Kampung Manungtung Desa Cilaban Bulan, Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang yang dibangun sekitar tahun 1840-an sebagai pusat syiar Islam di Provinsi Banten. Foto: Antara
Masjid Cikoneng yang berlokasi di Kampung Manungtung Desa Cilaban Bulan, Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang yang dibangun sekitar tahun 1840-an sebagai pusat syiar Islam di Provinsi Banten. Foto: Antara

TEMPO.CO, Jakarta - Masjid Cikoneng yang berlokasi di Kampung Manungtung Desa Cilaban Bulan, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten merupakan salah satu pusat syiar Islam. Masjid tersebut sudah berdiri sejak tahun 1840-an. 

"Dulu, masjid itu banyak dikunjungi jamaah dari berbagai daerah di Provinsi Banten untuk melaksanakan salat Jumat," kata Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Cikoneng, Abdul Hakim, Rabu, 13 Mei 2020. Pembangunan Masjid Cikoneng diperkirakan dibangun setelah Masjid Caringin di Kecamatan Labuan. Sebab kedua masjid tersebut menjadi pusat penyebaran Islam di Provinsi Banten.

Hingga kini kondisi Masjid Cikoneng masih utuh tanpa perbaikan baik mimbar maupun empat tiang penyangga dari kayu nangka serta ruangan depan untuk musyawarah. Namun ada beberapa bagian yang diperbaiki, seperti tembok ditempel keramik, pintu jendela juga tempat wudhu. Sedangkan beduk dan tongtong sebagai tanda memulai salat yang berusia ratusan tahun masih bertahan dan belum mengalami kerusakan.

Pembangunan Masjid Cikoneng dipastikan dibangun para penyebar Islam di Tanah Jawa. Hal itu bisa dilihat dari interior masjid yang tidak jauh berbeda dengan Masjid Banten, Caringin dan Demak, Jawa Tengah. Kebanyakan masjid sebagai pusat penyebar agama Islam selalu terdapat empat penyangga kayu juga jendela terbuka.

Meskipun Masjid Cikoneng sudah berusia ratusan tahun namun hingga kini belum dijadikan sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan. "Kami minta pemerintah segera menetapkan Masjid Cikoneng Menes diterbitkan cagar budaya sebagai saksi penyebaran Islam di Banten," kata Abdul.

Menurut dia, Masjid Cikoneng saat Ramadan dan Salat Jumat banyak dikunjungi jamaah dari Mandalawangi, Saketi, Cipecang, Pandeglang hingga Serang dan mereka berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Masjid tersebut dinilai memiliki nilai religius cukup tinggi. Bahkan, Masjid Cikoneng menjadi saksi kekejaman penjajahan Belanda yang menembaki para jamaah yang tengah melaksanakan Salat Jumat.

Saat itu, Abdul menjelaskan, pasukan Belanda mencari ulama yang memberontak terhadap pemerintahan pada 1948-an atau agresi kedua. Meski pasukan Belanda menembaki, para jamaah berlarian menyelamatkan diri dan tidak ada satupun jamaah yang luka atau meninggal dunia. "Pasukan Belanda menembaki jamaah di Masjid Cikoneng itu setelah ada mata-mata dari kepala desa setempat yang bersekutu dengan Belanda," katanya menjelaskan.

Sementara itu, Cecep Sumarna (80 tahun) yang menjadi salah satu saksi hidup mengatakan selamat dari tembakan pasukan Belanda saat umat Muslim melaksanakan Salat Jumat di Masjid Cikoneng. Menurut Cecep yang waktu itu masih kanak-kanak, pasukan Belanda tengah mencari ulama yang melakukan perlawanan. Cecep mengaku.

"Kami sebagai warga asli Manungtung yang rumahnya tidak jauh dengan Masjid Cikoneng sama sekali tidak mengetahui pembangunan masjid itu. Kami sebelum lahir masjid itu sudah ada," kata Cecep yang kini tinggal di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

ANTARA