JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Selasa, 3 Agustus 2021

Berkunjung ke Masjid Asasi, Masjid Tertua di Kota Padang Panjang

Reporter : Antara

Editor : Tulus Wijanarko


Senin, 4 Juni 2018 07:27 WIB

Warga melintas di depan Masjid Asasi di Nagari Gunung, Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. ANTARA

TEMPO.CO, Padang Panjang - Siang itu suasana teduh terasa ketika memasuki gerbang Masjid Asasi yang berada di Kelurahan Sigando, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat . Alunan ayat suci Al Qur'an terdengar lewat pengeras suara yang dilantunkan sejumlah murid SD, peserta  pesantren ramadhan.

Sayup-sayup juga terdengar suara air yang berasal dari kaki Gunung Marapimengisi kamar mandi dan tempat berwudhu masjid. Damai sekali.

Sekilas atas Masjid Asasi ini mengingatkan pada atap Masjid Agung Demak yang berbentuk limas berjumlah tiga tingkat. Sementara bangunanannya yang berjendela dan penuh ukiran, mirip dengan Rumah Gadang, rumah adat Sumbar.

"Atapnya ada yang berbentuk limas dan ada bagian yang berbentuk gonjong seperti pada Rumah Gadang. Masjid Asasi adalah masjid tertua di Padang Panjang, Sesuai namanya, Asasi diambil dari asas yang berarti dasar atau sesuatu yang jadi tumpuan," kata guru Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) Masjid Asasi G Datuk Pono Batuah.

Masjid Asasi yang berlokasi di Jalan Syeh Ibrahim Musa, Kelurahan Sigando ini, tercatat merupakan yang tertua ke dua di Indonesia. Masjid ini, berdasarkan buku tentang 10 masjid tertua di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, dibangun sekitar awal tahun 1400.

Sedangkan berdasarkan kesepakatan para tokoh masyarakat dan pemuka agama di sana, disepakati masjid itu dibangun pada 1718. "Sampai saat ini memang belum diketahui pasti kapan tepatnya dibangun karena memang belum dikaji. Namun yang jelas masjid ini adalah tempat berpusatnya aktivitas Islam dari empat nagari," kata G Datuk Pono Batuah.

Memang, masjid Asasi dibangun atas gagasan masyarakat empat nagari, yaitu Gunung, Paninjauan, Tambangan dan Jawo. Lahannya adalah hibah dari masyarakat. Segala aktivitas keagamaan bagi warga dari empat nagari itu berlangsung di masjid tersebut.

Menurut Pono batuah, dari lahan yang dihibahkan warga untuk masjid ada yang berupa sawah. Sawah itu dikelola dan hasilnya dibagi dua, setengah untuk pengelola dan setengah bagian untuk pengurus masjid dan membeli keperluan masjid. "Sampai saat ini pola tersebut masih berjalan dengan luas sawah yang dikelola empat tumpak, semuanya berada di Nagari Gunung."

Seiring perjalanan waktu dan berkembangnya ekonomi masyarakat, masing-masing nagari mulai membangun masjid sendiri. Namun Masjid Asasi tetap menjadi tempat warga Nagari Gunung menjalankan aktivitas agama.

Nagari Gunung terdiri atas empat kelurahan yaitu Sigando, Gantiang, Ekor Lubuk dan Ngalau. Sigando kini menjadi salah satu desa wisata budaya dan religi.

Masjid Asasi telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Hingga saat ini bangunan tersebut telah dua kali diperbaiki tanpa mengubah bentuk asli. Perbaikan dilakukan pada bagian atap, yaitu yang semula dari ijuk diganti menjadi atap seng. Juga ada perbaikan pada dinding kayu bagian dalam masjid.

Lalu ada perbaikan-perbaikan kecil di beberapa bagian seperti ukiran dan lain-lian. Meski demikian 90 persen ukiran masih asli. Ruang shalat yang lantainya kayu dan tiang utama juga masih asli. Ini menunjukkan betapa kokoh hasil kerja dan material bangunan yang digunakan masyarakat zaman dulu.

Bagian dalam masjid adalah berupa ruang lapang yang ditopang delapan tiang dan satu tiang utama  atau tunggak tuo. Selain ruang lapang sebagai ruang shalat juga terdapat beberapa kamar. Selain ruang shalat, ada juga ruang arsip, pustaka dan gharin yang terpisah dari bangunan masjid.

Pada salah satu kamar, masih tersimpan benda kuno seperti brangkas dari Belanda yang sudah tidak bisa dibuka. Warga setempat tidak ada yang mengetahui cara membukanya.

Di halaman tepatnya sisi kanan masjid, terdapat satu bangunan kecil menyerupai rangkiang berfungsi sebagai tempat tabuh atau beduk. Semula bangunan seperti rangkiang itu berjumlah dua unit, namun salah satunya hancur karena usia.

ANTARA

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Selasa, 3 Agustus 2021

Terpopuler