Rabu, 23 Agustus 2017

Menyantap Sate Danguang-Danguang Saat Lebaran

Selasa, 27 Juni 2017 | 17:37 WIB
Sate Danguang-danguang. TEMPO/Febrianti

Sate Danguang-danguang. TEMPO/Febrianti.

TEMPO.CO, Payakumbuh - Arsyad, 52 tahun asyik mengipas tusukan daging sate yang berjejer di atas pemagangan api. Aroma sedap yang menggugah selera menyeruak dari rumah seorang warga di Koto Baru, Payobasuang, Kota Payakumbuh yang tengah menggelar acara halal bi halal.

Arsyad yang biasa menjajakan dagangannya dengan memakai sepeda motor, hari ini diminta menyiapkan hidangan sate danguang-danguang untuk acara arisan keluarga sekaligus halal bi halal Lebaran. Tangannya dengan cekatan membelah ketupat untuk disajikan di atas piring beralaskan daun pisang. Potongan daging sapi yang telah dipanggang tadi ditaruhnya di atas ketupat.

Baca juga: Sate Danguang-danguang, Gagrak Lain Sate Padang

Kemudian dia menyiramkan tusukan-tusukan sate itu dengan kuah kental panas berwarna kuning. Di atasnya lalu ditaburi bawang goreng. Sate Danguang-Daguang pun siap untuk disantap.

Sate Danguang-Daguang salah satu jenis sate asal Sumatera Barat yang harus Anda dicicipi. Merupakan model lain dari sate Padang dan berasal dari daerah Danguang-Daguang yang terletak di Kabupaten Limapuluh Kota.


Sate ini memiliki pelbagai ciri khas. Di antaranya kuahnya yang berwarna kuning dan dicampur santan. Dagingnya ditaburi parutan kelapa. Berbeda dengan sate Padang lainnya dengan kuah berwana merah bata dan daging tanpa parutan kelapa.

"Itulah beda sate Danguang-Daguang dengan sate lainnya. Rempah-rempahnya lebih alami," ujar Arsyad saat menjelaskan perbedaan sate yang dijualnya dengan sate Padang lainnya, Selasa, 27 Mei 2017.

Kuah sate berwarna kuning itu dibuat dari tepung beras, kunyit, daun jeruk purut, cabe bawang merah, ketumbar, lengkuas, dan rempah-rempah lainnya. Kemudian diaduk dengan santan.

Menurutnya, bedanya lagi dengan sate lainnya, dengan menambahkan santan. Kuah sate juga diberi sedikit gula aren, agar terasa sedikit manis.

Sedangkan daging sdapinya, kata dia, direbus hingga masak dan dipotong kecil-kecil. Kemudian diberi bumbu yang terbuat dari kunyit, jahe, bawang putih, bawang merah, dan rempah-rempah lainnya serta dicampur dengan kelapa yang diparut hingga halus. Daging yang telah direbus diaduk dengan bumbu tersebut hingga masak. "Setelah masak. Potongan daging itu ditusuk ke lidi," ujarnya.

Selama Lebaran Arsyad biasanya menghabiskan 15 kilogram daging. Satu kilogram daging itu bisa mendapatkan 80 tusuk sate. Ia mengatakan penjualannya meningkat selama Lebaran. Biasanya sehari dia hanya menghabiskan dua kilogram daging.

"Banyak juga yang pesan untuk Halal Bi Halal," ujarnya. Contohnya, Ernawilis, sang tuan rumah sengaja memesan sate Danguang-Daguang untuk arisan keluarga. Ia pesan 100 porsi sate untuk dihidangkan dalam acara tersebut.

Arsyad menjual satu porsi satenya beragam, dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. "Kalau satu porsi yang Rp 10 ribu, dihidangkan dengan satu setengah ketupat dan tiga tusuk sate," ujarnya.

ANDRI EL FARUQI


Grafis

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Jalur Larangan Sepeda Motor di Sudirman dan Rasuna Said

Ini jalur alternatif menghadapi rencana Dinas Perhubungan DKI Jakarta memperluas larangan sepeda motor di jalan Sudirman, Imam Bonjol, dan Rasuna Said.