Selasa, 22 Agustus 2017

Ada Lemak Melayu dan Bandeng Kemangi di Masjid UGM

Minggu, 18 Juni 2017 | 08:01 WIB
Jamaah mendapatkan takjil buka puasa di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu lalu. TEMPO/PITO AGUSTIN RUDIANA

Jamaah mendapatkan takjil buka puasa di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu lalu. TEMPO/PITO AGUSTIN RUDIANA.

TEMPO.CO, Jakarta - Di Masjid Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, keberagaman begitu terasa di mulut mereka yang berpuasa. Bukan hanya slogan semata, pengelola masjid merayakan dengan menyajikan menu buka puasa dari penjuru Nusantara setiap hari selama Ramadan. Daftar lauk iftar gratis dibagikan lewat media sosial supaya yang berpuasa ikut menentukan menu pilihannya.

Koordinator Akhwat Divisi Buka Bersama Masjid UGM, Siti Aisyah, mengatakan menu Nusantara dihadirkan karena tahun lalu jemaah mengeluhkan lauk yang disajikan itu-itu saja. “Ada jemaah yang memprotes panitia,” kata Aisyah sambil tertawa, Sabtu, 10 Juni 2017. Keberagaman lauk berbuka puasa diangkat dalam tema Ramadan di masjid ini.

Selama Ramadan 2017, ada 30 menu yang disajikan kepada jemaah masjid. Antara lain ayam rica-rica, nasi kebuli, sate Padang, nasi kuning Sulawesi, bandeng kemangi khas Nusa Tenggara, nasi lemak Melayu, mi Bangka, ikan kuah asam Maluku, nasi langgi, nasi goreng Aceh, hingga coto Makassar.

Tak ketinggalan menu khas Jawa dan Yogyakarta, seperti gudeg, nasi merah Gunung Kidul, mangut lele, juga nasi rawon. Lidah berasa sedang jalan-jalan ke seluruh negeri meski hanya bersantap di halaman masjid di Sleman itu.


Karena menu beragam, jumlah jemaah masjid pun bertambah. Mereka datang dari berbagai kalangan. Hari pertama puasa, misalnya, 2.017 porsi tersedia. Hari kedua, ada 1.438 porsi dibagikan gratis untuk merayakan angka tahun Hijriah. Hari ketiga dan seterusnya, 1.250 porsi dibagikan dan jumlahnya akan menurun menyesuaikan jumlah jemaah yang juga berkurang. Pasalnya, mayoritas jemaah yang menikmati buka bersama adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Sebagian mereka sudah pulang kampung untuk Lebaran.

Menyajikan lebih dari seribu porsi makanan saban sore, panitia menggandeng tiga usaha katering. Makanan-makanan itu disajikan dalam kotak ditambah segelas plastik air teh dan sebotol air kemasan. Biaya untuk satu bungkus makanan itu sekitar Rp 10 ribu. Panitia membayarnya dengan bantuan dana dari jemaah.

Pada Sabtu sore itu nasi bandeng kemangi khas Nusa Tenggara Timur hadir di masjid itu. Menjelang magrib, bau kemangi menguar dari 1.250 kotak yang disiapkan di beberapa pos di sisi barat dan timur masjid. Ada pula ribuan gelas plastik warna-warni berisi teh manis hangat. Sebelum antre, jemaah mengambil kupon terlebih dulu di pos panitia. Pembagian dipisahkan untuk jemaah laki-laki dan perempuan.

Anti, 42 tahun, pekerja swasta asal Tuban, Jawa Timur, ikut menikmati kehangatan pada magrib itu. Ia mengaku baru kali ini merasakan buka bersama di Masjid UGM. Di kotak Anti tersaji setangkup nasi, sepotong bandeng dengan sambal di atasnya, sepotong tempe bacem, dan bihun goreng. Azan magrib pun berkumandang. Doa dan syukur mampir di hati dan mulut mereka yang berpuasa. Setelah berbuka, salat berjemaah menanti. Dan, esok berpuasa lagi dengan gembira.

PITO AGUSTIN RUDIANA


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?