Tarawih Keliling Gubernur Ahmad Heryawan Dimulai dari Masjid Pusdai

Editor

Elik Susanto

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. ANTARA/Agus Bebeng
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. ANTARA/Agus Bebeng

TEMPO.CO, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar tradisi Safari Ramadan Gubernur dan Tarawih Keliling (Tarling) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah. Selain menyemarakkan Ramadan, acara ini untuk silaturahmi.

"Ini untuk mempererat hubungan dengan masyarakat. Kegiatan Tarling juga dimaksudkan menyerap aspirasi masyarakat dan sebaliknya memberi semangat kepada masyarakat Jawa Barat," kata Kepala Bagian Publikasi Sekretariat Daerah Jawa Barat Ade Sukalsah, di Bandung, Jumat, 26 Mei 2017.

Menurut Ade, tarawih keliling pertama digelar di Masjid Pusdai, Jawa Barat. Penceramahnya Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Selanjutnya, kata Ade, gubernur akan keliling ke sejumlah masjid yang agendanya sudah disiapkan.

Baca: Jemaah Salat Tarawih Ramadan Padati Masjid Raya Baiturrahman

Selain di Bandung, Tarling diselenggarakan di luar Kota Bandung seperti Kota Sukabumi pada Senin, 5 Juni 2017. Kemudian di Kabupaten Bekasi pada Kamis, 8 Juni 2017, diteruskan di Kabupaten Majalengka pada Rabu, 14 Juni 2017, dan Kota Cimahi pada Selasa, 20 Juni 2017. "Jadwal selengkapnya dapat dilihat di Instagram dengan akun humas, @humas_jabar," ujarnya.

Dari Jember, Jawa Timur, ratusan santri dan warga di sekitar Pondok Pesantren Mahfiludluror memulai salat tarawih pada Kamis malam, 25 Mei 2017. Sehari lebih awal dari penetapan awal Ramadan oleh pemerintah.

"Kami melaksanakan salat tarawih sesuai dengan penetapan awal puasa berdasarkan kitab Nazhatul Majalis karangan Syekh Abdurrahman As Shufuri As Syafi'i yang dicetak di Lebanon," kata pengasuh Pesantren Mahfiludluror, Ali Wafa, di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember.

Baca: Tarawih di Masjid Raya Bogor 23 Rakaat dan Baca Al-Quran 1 Juz

Pesantren yang berada di perbatasan antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso itu beberapa kali melaksanakan puasa Ramadan lebih awal. "Keyakinan itu sudah ada sejak pesantren ini didirikan pada 1926 dan diikuti oleh alumni pondok pesantren yang kini berada di berbagai daerah."

Ali Wafa menjelaskan, penetapan awal Ramadan di pesantrennya berdasarkan keyakinan yang menggunakan acuan sistem khumasi (dari bahasa Arab artinya lima/khomsatun), yang berdasarkan kitab Nazhatul Majalis.

Baca: Ramadan, Wali Kota Padang Ajak Warganya Khatamkan Al Quran

Sistem penghitungan khumasi, yakni penentuan awal puasa tahun ini bisa ditentukan dengan cara menghitung lima hari dari awal puasa tahun. "Awal Ramadan tahun lalu jatuh pada hari Senin, sehingga tahun ini awal puasa jatuh pada Jumat," kata Ali Wafa.

Kendati demikian, kata Ali Wafa, beberapa kali penetapan awal puasa di pesantren yang didirikan kakek Ali Wafa tersebut sama dengan pemerintah. "Tahun lalu, kami menjalankan ibadah puasa bersamaan dengan pemerintah karena kebetulan penghitungan khumasi sama dengan hasil sidang isbat Kementerian Agama."

Ali Wafa mengatakan warga dan alumnus Pesantren Mahfiludluror menghargai perbedaan dan tetap hidup rukun dengan muslim di sekitarnya yang menjalankan ibadah puasa berdasarkan penetapan pemerintah. "Perbedaan itu tidak perlu memicu konflik di kalangan umat Islam," katanya.

ANTARA