JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Jumat, 30 Juli 2021

Ini Pertimbangan NU Tetapkan 1 Syawal Berdasarkan Rukyat

Reporter :

Editor : Setiawan Adiwijaya


Minggu, 3 Juli 2016 14:42 WIB

Melihat Hilal. TEMPO/Edwin Fajarial

TEMPO.COJakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama bakal menetapkan 1 Syawal pada Senin, 4 Juli 2016. Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan organisasinya akan menetapkan Hari Raya Idul Fitri dengan rukyat atau pengamatan langsung terhadap posisi bulan. Tak terpengaruh pada sidang isbat Kementerian Agama, Senin besok.

Ia menjelaskan, apabila posisi bulan sudah berada pada lebih dari 2 derajat, 1 Syawal akan jatuh pada 5 Juni. "Kalau besok sudah terlihat 2 derajat, jatuhnya pada 5 Juni, jadi lebih cepat," kata Helmi saat dihubungi di Jakarta, Ahad, 3 Juli 2016. 

Menurut Helmy, ini berbeda dengan Muhammadiyah yang telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal pada 6 Juni. Menurut hisab dengan rumus kitab Ephemeris hisab rukyat yang dikutip Kiai Salam Nawawi, Rais PWNU Jawa Timur, irtifak hilal pada Senin, 4 Juli 2016, minus 1 derajat. "Tak beda dengan rumus kitab Irsyadul Murid yang ditulis Kiai Achmad Ghozali dari Pesantren Lanbulan, Bangkalan, bahwa saat rukyatul hilal, posisi hilal minus 2 derajat di bawah ufuk."

Baca Juga: Digelar Senin, Sidang Itsbat 1 Syawal Gunakan Dua Metode 

Muhammadiyah, kata Helmy, dalam Maklumat Nomor 01 Tahun 2016 menyatakan pada Senin, 4 Juli, irtifak hilal sebesar minus 1 derajat. "Hilal belum terwujud di seluruh Nusantara," ujarnya.

Hasil perhitungan tersebut, menurut Helmy menyimpulkan bahwa 1 Syawal akan jatuh pada Rabu, 6 Juli. Kaum Nahdliyin tetap melakukan rukyatul hilal pada Senin, 4 Juli. Sidang isbat besok akan didasarkan hasil rukyatul hilal bil fikli dan penggenapan Ramadan menjadi 30 hari.

"Bukan atas dasar istikmal bil hisab atau bil astronomi, tapi sesuai dengan hadis shoheh muktabar, yaitu istikmal bir rukyah," tutur Helmy.

Simak: Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 6 Juni 2016 

Adapun pada hari yang sama, Kementerian Agama bakal menggelar sidang isbat untuk menentukan awal bulan baru Hijriah. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Machasin mengatakan Kementerian bakal menggunakan dua metode, yaitu metode hisab dan metode rukyat.

Machasin menuturkan kementeriannya bakal melibatkan beberapa pihak dalam sidang isbat tersebut, seperti ahli astronomi, ahli falak, beberapa pemimpin masjid Islam, duta besar negara sahabat atau perwakilan, dan tim pengamat hisab dari Kementerian Agama. Sidang bakal berlangsung tertutup.

ARKHELAUS W.

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Jumat, 30 Juli 2021

Terpopuler