JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Memburu Lailatul Qadar: Hotel Bintang Lima Bernama Masjid (3)  

Reporter :

Editor : Mustafa moses


Sabtu, 2 Juli 2016 16:42 WIB

Ribuan jemaah calon haji melakukan tawaf, berjalan mengelilingi Kabah tujuh kali, di Masjidil Haram, Mekah, 21 September 2015. Para jemaah mulai bergerak Padang Arafah pada 22 September 2015 untuk melakukan wukuf. MOHAMMED AL-SHAIKH/AFP/Getty Images

TEMPO.CO, Mekkah - Malam itu malam keramat. Malam ke-27 pada bulan Ramadan atau Jumat, 1 Juli 2016. Ini sebuah malam yang diyakini oleh kaum muslimin sebagai salah satu momen turunnya lailatulkadar.

Lelaki itu datang dengan "amunisi" yang super-lengkap untuk seorang anggota jemaah tarawih. Mengenakan gamis putih panjang khas Arab, lelaki itu datang membawa tas besar berisi aneka peralatan: sajadah, peci, tasbih, sebungkus kurma, jeriken untuk wadah air zamzam ukuran 2 liter, beberapa lembar baju ganti, handuk, dan sebuah kasur berukuran 60 x 200 sentimeter.

Kasur? Ya, dia ke masjid membawa kasur berisi udara yang bisa dipompa. Tak cuma kasur yang dibawa, bantal dan seprai pun turut dibawa serta. Tiga lelaki, tiga kasur. Selamat datang di hotel bintang lima bernama Masjidil Haram.

Demi mengejar lailatulkadar, jemaah umrah di Masjidil Haram rela membawa bekal perlengkapan lengkap. Mereka ingin beriktikaf (berdiam diri di masjid dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Quran dan salat) selama mungkin di Masjidil Haram.

Ada yang menginap selama 10 hari terakhir Ramadan secara penuh, ada pula yang hanya menginap saat malam, ada juga hanya mengejar salat tarawih dan qiamulail berjemaah. Tak usah heran saat Tempo menanti salat tarawih pada Jumat, 1 Juli, terlihat tiga kasur warna merah-biru disandarkan di dinding masjid sayap baru Masjidil Haram di lantai 1. Di sampingnya terlihat handuk dan pakaian yang usai dijemur.

"Saya juga begitu. Nyaris tak pulang ke hotel," kata Subakti, jemaah umrah asal Medan. "Saya hanya pulang untuk ambil baju ganti di hotel."

Bedanya, Subakti tak membawa kasur. Untuk alas tidur, dia memilih menggunakan selembar kain ihram yang memang cukup tebal. Selembar kain ihram lainnya yang bekas dipakai umrah dia gunakan untuk selimut.

Soal makan? "Gampang. Makanan di Masjidil Haram melimpah ruah dan gratis," ujar Subakti. Di Masjidil Haram setiap menjelang berbuka selalu banyak orang yang membagikan makanan, dari kurma, roti, susu, yoghurt, jus, atau buah. Jemaah di sana amat gemar berbagi.

Malam ke-27 Ramadan tahun ini juga ramai. Karena bertepatan dengan hari Jumat, sejak pukul 10.00, orang sudah menyerbu masjid. Telat sedikit, mereka bisa tak kebagian kaveling sajadah di dalam masjid dan terpaksa salat di luar. Bisa dibayangkan salat Jumat di bawah terik matahari Arab yang suhunya bisa mendidihkan kepala, suhunya dari 39 sampai 43 derajat Celsius.

Orang-orang yang datang pada pagi hari itu umumnya terus beriktikaf di masjid hingga usai tarawih pukul 23.00 atau seusai salat qiamulail pukul 02.30.

"Mengapa masjid terasa lebih ramai saat umrah Ramadan ketimbang haji, karena saat Ramadan orang menetap di masjid, sedangkan saat haji orang hanya datang ke masjid saat salat wajib," kata Cholis, mahasiswa asal Indonesia di Mekah.

Namun, malam ke-27 Ramadan kali ini, menurut Abdul Rokhim, warga Indonesia yang tinggal di Mekah sejak 1983, lebih manusiawi. Jemaah membludak, tapi Kerajaan Arab Saudi telah menyiapkan sayap baru Masjidil Haram. "Biasanya saat sujud, kepala kita pasti ada di bawah selangkangan orang lain karena saking padatnya jemaah," kata lelaki yang pernah mengantar Presiden Soeharto mencium batu hajar aswad di Ka'bah itu.

Benar, Masjidil Haram memang berbenah. Mereka telah memperluas area masjid dengan proyek bernama "Increasing Mataf Capacity Project-Makkah". Proyek raksasa yang digarap oleh keluarga Bin Ladin Group ini bertujuan memperluas area masjid hingga 400 ribu meter persegi. Di samping masjid juga dibangun rumah sakit khusus haji.

Pembangunan konstruksinya melibatkan BUMN Indonesia. "Kami sudah tiga tahun mengerjakan proyek ini," kata Septiawan, Kepala Cabang Waskita Karya, kepada Tempo di Mekah, 26 Juni lalu.

Dengan bangunan baru, serta tempat tawaf baru, Masjidil Haram bakal bisa menampung 2,2 juta orang.

Perluasan mataf (tempat tawaf mengelilingi Ka'bah) itu akan meningkatkan kapasitas jemaah, dari yang semula 48 ribu menjadi 105 ribu orang.

Masjidil Haram menjelma menjadi "hotel bintang lima" bagi jemaah. Bahkan tingkat kebisingan suara speaker pun selalu dipantau agar suara Imam terdengar lebih merdu, dijaga sekitar 84 desibel.

BS (MEKAH)

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021