JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Jumat, 23 Juli 2021

Dekati Lebaran, Perajin Batik Kediri Kebanjiran Pesanan  

Reporter :

Editor : Rully Widayati


Rabu, 22 Juni 2016 08:43 WIB

Ilustrasi Batik. TEMPO/Aris Andrianto

TEMPO.CO, Jakarta - Perajin kain batik tulis Anik asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mendekati Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah/2016 "kebanjiran" permintaan dari para pelanggan di berbagai daerah.

"Permintaan dari beragam daerah, ada juga yang dari Papua. Mereka memesan motif Irian, lalu dikirim ke sana," kata Sri Anik Puji Murtini, perajin kain batik tulis asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Selasa, 21 Juni 2016.

Ia mengatakan permintaan pembeli itu dari berbagai tempat. Pembeli mengetahui kerajinan ini salah satunya dari jejaring sosial Facebook. Selain melihat berbagai motif, pembeli juga melihat pengerjaan kain batik ini yang dipasang di Facebook, sehingga mereka memesannya.

Anik mengatakan permintaan pesanan kain batik dari kerajinan miliknya selama Ramadan naik hingga 100 persen. Dalam sehari, rata-rata pekerjanya bisa menyelesaikan pembuatan kerajinan ini sekitar satu kain, tapi jika motifnya agak sulit sekitar dua-tiga hari.

Walaupun permintaan naik hingga 100 persen, Anik mengatakan stok yang ia miliki juga masih banyak. Jauh-jauh hari sebelum Ramadan, para perajin yang bekerja di tempatnya sudah membuat kain batik dengan beragam motif.

Ia juga mengatakan para pembeli biasanya mencari motif khas. Anik sengaja mendesain motif khas Kabupaten Kediri, misalnya motif simpang lima gumul (SLG), jaranan, maupun mangga podang.

"Pembeli menyukai motif khas Kabupaten Kediri, salah satunya mangga podang. Selain untuk dipakai sendiri, juga sebagai suvenir untuk keluarga, maupun tamu," ujarnya.

Anik mengungkapkan, usaha ini sudah digelutinya sejak 2004. Awalnya, ia melukis di berbagai media, seperti baju dan kerudung, tapi kemudian fokus ke kain batik. Awal berdiri, ia dibantu tiga orang, tapi saat ini sudah berkembang hingga 30 orang.

Untuk omzet, Anik yang juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Kediri ini juga mengatakan selama sebulan omzetnya sekitar Rp 20-25 juta. Namun, saat Ramadan, bisa naik drastis, mengingat permintaan juga naik.

Harga jual kain batik yang dibuat Anik relatif terjangkau, Rp 100-400 ribu, tergantung kain yang digunakan. Kain yang ia gunakan misalnya, primis, primisima, katun, dan sejumlah kain lain.

Anik berharap usahanya ini bisa terus berkembang luas dan merekrut lebih banyak tenaga kerja. Ia sangat mendukung jika ada perempuan, terlebih lagi ibu rumah tangga yang mau bekerja, untuk membantu perekonomian keluarga.

Kain batik dengan ciri khas Kabupaten Kediri memang dicari beberapa konsumen. Salah satunya, Sari Priti Basrini. Ia mencari kain batik dengan motif mangga podang untuk seragam keluarga.

"Saya suka motif mangga podang. Kain batik ini juga bisa digunakan untuk acara keluarga ataupun sarimbit dengan suami dan anak-anak, jadi resmi bisa, santai pun juga bisa. Selain itu, dengan menggunakan batik, turut serta melestarikan budaya bangsa," ujar Sari.

ANTARA

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Jumat, 23 Juli 2021