JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Jumat, 23 Juli 2021

Beragama dengan Cemburu

Reporter :

Editor : Suseno TNR


Kamis, 16 Juni 2016 03:30 WIB

Komaruddin Hidayat. TEMPO/ Hendra Suhara

TEMPO.CO - Dalam perilaku agama, ada sikap yang sering dipertanyakan dalam forum-forum diskusi. Mengapa ada kecenderungan tidak rela jika orang yang berbeda agama masuk surga? Apakah orang yang berbeda agama, Tuhannya juga berbeda? Ataukah sama tapi hanya satu jalan dan pintu menuju kepada-Nya? Kalau muncul perasaan orang beda agama tidak rela jika masuk surga, apakah itu sikap Tuhan ataukah keyakinan dan perasaan manusia sendiri?

Tentu saja ada alasan psikologis dan kitabiah mengapa seseorang tidak senang melihat agama orang lain berkembang lebih pesat. Sikap tidak rela tersebut pada akhirnya melahirkan konstruksi sebuah konsep dan keyakinan bahwa Tuhan itu tidak lapang dan senang dibela dengan pertumpahan darah.

Perbedaan agama sertamerta menciptakan garis pemisah dan berusaha menutup pintu ke surga bagi umat yang berbeda keyakinan. Terbayang di sana hanya ada satu pintu ke surga, lalu diperebutkan secara berdesak-desakan, bahkan terjadi saling bunuh. Bukankah ada doktrin bahwa membunuh orang kafir itu memperoleh pahala dari Tuhan? Keyakinan semacam itu dimiliki terutama oleh umat Kristen dan umat Islam. Makanya, dua pemeluk agama ini terus saja terlibat konflik, kebencian, dan peperangan sepanjang sejarah. Lalu, perangnya pun disebut “perang suci” (holy war). Siapa yang membunuh lawannya, pintu surga terbuka di depan matanya.

Jika perbedaan agama terus menjadi sumber konflik dan perang, penduduk bumi mesti bersiap melihat dan terlibat dalam perang antarumat beragama yang kian seru dan merata. Mengapa? Karena populasi penganut agama semakin besar jumlahnya dan semakin tersebar ke berbagai penjuru dunia. Masyarakat dunia pun semakin berdekatan jaraknya, tapi pluralitas agama juga semakin kental dirasakan. Betapa pesimistisnya masa depan masyarakat dunia kalau perbedaan agama bukannya membuat kehidupan semakin nyaman dan peradaban semakin maju, tapi eksistensi agama-agama malah menjadi sumber keresahan?

Perkembangan dan perubahan demografi pemeluk agama ini sangat dirasakan oleh negara-negara Barat, yang jumlah pemeluk Islam-nya berkembang jauh lebih cepat dan pesat ketimbang umat Kristiani. Baik para imigran maupun umat Islam yang terlahir dan tumbuh di sana pada umumnya anak-anaknya banyak, sedangkan warga nonmuslim pertumbuhannya nol, atau bahkan minus. Mereka enggan punya anak. Perubahan perbandingan populasi ini jika tidak disertai pemerataan kesejahteraan ekonomi, pendidikan, dan keamanan, potensial menimbulkan konflik ethno-religion. Bertemunya sentimen etnis dengan agama.Kegelisahan ini sudah dan sedang berlangsung di berbagai belahan dunia.

Jadi, ke depan, tema keagamaan dan ketuhanan tidak akan pernah surut, bahkan terdapat tanda-tanda menguat. Apakah institusi negara, institusi sosial, dan institusi lain akan menjadi pendamping, pesaing agama, ataukah musuh agama? Atau, bagaimana agama akan merumuskan peran dirinya dalam masyarakat dunia yang kian padat dan majemuk ini? Apakah tokoh dan gerakan agama akan menjadi penggerak perubahan dan pembangun peradaban seperti abad-abad lalu? Jawaban yang muncul bisa bernuansa ideologis, teologis, utopis, dan scientific.

Dalam karyanya, Shall the Religious Inherit the Earth? (2010), Eic Kaufman menyajikan data dan analisis yang cukup mengusik bahwa perkembangan dan mobilitas demografi akan membawa dampak signifikan terhadap dinamika politik dan hubungan antarumat beragama. Pertumbuhan umat Islam di negara-negara Barat dinilai potensial melahirkan konflik sosial dan politik yang berakar pada sentimen agama.Tidak hanya Islam, perkembangan yang cukup pesat dari sekte Pantekosta di Amerika Latin, Afrika, dan Asia juga melahirkan dinamika sosial dan politik tersendiri.

Jadi, betul kata Thomas L. Friedman, yang menyatakan bahwa dunia semakin sesak dan pengap, sebagaimana judul bukunya, Hot, Flat, and Crowded (2008). Meski Friedman belum memasukkan variabel paham serta sikap keberagamaan yang eksklusif dan agresif, sehingga menambah panas percaturan dan pergaulan dunia.

Pertanyaannya, mestikah beragama disertai sikap cemburu dan benci terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Kalau seseorang telah yakin dan merasa benar serta nyaman dengan ajaran dan praktek keberagamannya, bukankah kenyamanan itu yang mestinya disebarluaskan? Bukannya malah menyebar kecemburuan dan kebencian yang destruktif. Dengan demikian, agama dan sikap keberagamaan benar-benar sebagai rahmat bagi lingkungannya.

*) Komaruddin Hidayat, Mantan Rektor UI Syarif Hidayatullah Tulisan ini Pernah dimuat di Koran Tempo edisi 24 Agustus 2011

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Jumat, 23 Juli 2021