JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Masjid Cheng Hoo Didominasi Gaya Arsitektur Cina

Reporter :

Editor : Suseno TNR


Senin, 6 Juni 2016 14:35 WIB

Masjid Cheng Ho, Palembang, 3 Maret 2011. TEMPO/ Gunawan Wicakson

TEMPO.CO, Palembang - Masjid Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya berdiri di tengah permukiman elite di seberang kompleks olahraga terpadu, Jakabaring Sport City. Masjid ini selalu menarik perhatian umat dan warga non-muslim untuk berkunjung. Tak sekadar singgah untuk salat, pengunjung juga dapat menikmati keindahan rumah ibadah khas Tionghoa itu. Dari tampilan warna dan arsitekturnya, banyak yang mengira bangunan tersebut merupakan kelenteng. Namun anggapan itu akan sirna karena bangunan yang didominasi warna merah dan hijau dilengkapi dua menara tinggi.

Ahmad Affandi, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), atau dikenal juga dengan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, mengungkapkan, setiap bulan puasa, jumlah pengunjung meningkat drastis. Mereka umumnya datang untuk bertadarus dan salat berjamaah. Setelah menjalankan ibadah itu, mereka biasanya berfoto selfie di depan atau dalam bangun yang berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi. Pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbuka puasa bersama secara gratis setiap harinya. "Kami siapkan buka bersama dan salat taraweh dua imam hafiz," kata haji Didi, sapaan akrabnya, akhir pekan lalu.

Sehari menjelang Puasa, Tempo menyempatkan diri salat asar berjamaah di masjid itu. Seusai salat, mata tertuju ke bagian dalam bangunan dua lantai itu. Di atas tempat imam, terdapat kayu sepanjang 6 meter terpaku secara horizontal. Balok yang dipaku pada dua pilar itu menyerupai palang pintu. Di lantai atas juga terdapat tempat ibadah berpagar merah setinggi 1 meter. Sementara itu, di lantai bawah, ada sekat jamaah laki-laki dan perempuan. Di bagian sayap juga bisa digunakan jemaah.

Haji Didi menjelaskan, masjid yang dibangun dengan perpaduan unsur Cina, Melayu, Arab, dan Nusantara ini sudah dilengkapi rumah imam, rumah tahfiz, dan tempat pendidikan Alquran serta perpustakaan.

Masjid ini dibangun pada 2003 atas prakarsa warga Tionghoa dan warga pribumi dari berbagai kalangan dan status sosial, diawali dengan peletakan batu pertama. Beberapa tahun kemudian, masjid tersebut digunakan untuk menyambut tamu-tamu, seperti Sea Games, ASEAN University Games, Musabaqoh Tiwatil Quran international, hingga peserta OKI.

Sementara itu, Hasanudin dari Prabumulih mengatakan cukup sering datang ke masjid tersebut. Hampir setiap ke Palembang ia menyempatkan waktu untuk salat di masjid itu. Ia mengaku tertarik dengan keindahan, kenyamanan, dan keamanan masjid. Karena itu, ia merasa tenang saat beribadah, meski harus meninggalkan barang berharga di kendaraaannya. "Di sini ada penjagaan satpam siang dan malam," tuturnya.

PARLIZA HENDRAWAN

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Terpopuler