JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Mengapa Pemudik Rentan Terserang Dehidrasi?

Reporter :

Editor : Mohammad Reza Maulana


Kamis, 16 Juli 2015 07:58 WIB

Seorang anak tertidur di atas sepeda motor saat ikut mudik dengan orang tuanya di jalur Pantura, Karawang, 14 Juli 2015. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemudik yang menggunakan sepeda motor tidak membawa anak, karena sangat membahayakan. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Jakarta - Di balik keceriaan kaum perantau yang kembali ke kampung halamannya, ada sejumlah masalah kesehatan yang mengintai. Pertama adalah dehidrasi. "Jika kebutuhan cairan tidak tercukupi, bisa mengancam jantung, ginjal, bahkan jiwa," ujar Dokter Spesialis Gizi Tirta Prawita Sari kepada Tempo, tiga hari lalu.

Bahaya dehidrasi, dia melanjutkan, semakin berlipat pada pemudik bersepeda motor, yang terpapar langsung sinar matahari. "Jika ingin terus berpuasa, sebaiknya mereka melakukan perjalanan pada malam hari, sehingga kebutuhan cairan tetap bisa terpenuhi," ujar Tirta.

Baca juga:Ribut Polisi Vs KY, Buya Syafii: Negara Gali Kubur Sendiri!  Budi Waseso Dinilai Sudutkan Syafii, Muhammadiyah Dihina?

Untuk menjaga kebutuhan cairan tubuh, dia menyarankan pemudik minum cukup air. "Kalau perlu, konsumsi minuman elektrolit, seperti air kelapa," ujarnya. Selain memulihkan metabolisme tubuh, minuman elektrolit tidak membuat tubuh terkecoh "puas dahaga palsu" yang kerap timbul saat berbuka puasa. Misalnya, usai minum segelas es teh manis, otak mengirim sinyal ke tenggorokan bahwa rasa haus telah sirna. Padahal, tubuh kita masih butuh banyak cairan.

Sebaliknya, Tirta menyarankan pemudik menghindari kopi dan minuman berenergi. Dua minuman yang dianggap bisa menambah konsentrasi itu, dia melanjutkan, membuat beban kerja jantung berlipat dan berisiko buruk di perjalanan panjang seperti mudik.

Untuk menjaga tubuh tetap bugar, asupan makanan perlu dijaga. Karbohidrat penting untuk membuat fisik kuat. Namun, kata Tirta, jangan berlebihan. Menurut dia, jika terlalu kenyang, konsentrasi metabolisme tubuh akan terpusat ke pencernaan. "Akibatnya, udara tak cukup dibawa ke otak, sehingga membuat ngantuk," ujar dokter yang praktek di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, ini.

Guna mengusir kantuk, senjatanya ya camilan. Tirta menyarankan buah-buahan seperti pisang ketimbang kudapan olahan manis atau asin. Makanan yang manis seperti bolu akan membuat gula darah gampang naik, tapi juga mudah drop. Jika sudah begitu, tubuh mudah lelah. Sedangkan makan makanan yang asin seperti keripik akan membuat gampang haus. "Konsumsi garam yang berlebihan bisa membuat dehidrasi," katanya.

NUR ALFIYAH

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Terpopuler