JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Selasa, 27 Juli 2021

Bedug Peninggalan Adipati Cokronagoro I di Purworejo

Reporter :

Editor : Nur Haryanto


Kamis, 25 Juni 2015 21:41 WIB

TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta -  Ingin melihat bedug terbesar di dunia? Datanglah ke alun-alun Purworejo, Jawa Tengah. Tepatnya di Masjid Darul Muttaqien. Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan Adipati Cokronagoro I. Semula, Bupati Purworejo pertama itu sangat menginginkan memiliki sebuah bangunan Masjid Agung di tengah kota sebagai pusat kegiatan ibadah sekaligus memberikan ciri Islamiyah pada wilayah yang dipimpinnya.

Maka di sebelah barat alun-alun kota Purworejo yang berdekatan dengan kediaman (pendopo) sang bupati, didirikanlah Masjid Agung Kadipaten yang sekarang bernama Masjid Darul Muttaqien. Masjid ini dibangun pada Ahad, tanggal 2 bulan Besar Tahun Alip 1762 Jawa atau 16 April 1834 M, seperti tercantum pada prasasti yang terpasang di atas pintu utama masjid yang berada di Desa/Kelurahan Sindurjan.

Masjid ini, dibangun dengan gaya arsitektur Jawa berbentuk Tanjung Lawakan lambang Teplok yang mirip Masjid Agung Keraton Solo, bahan-bahan untuk membuat tiang utama masjid ini berasal dari kayu jati bang yang mempunyai cabang lima buah (simbol rukun Islam) dengan umur ratusan tahun dan diameter lebih dari 200 cm dan tingginya mencapai puluhan meter.

Di atas tanah seluas sekitar 8.825 meter persegi, masjid ini akhirnya berdiri megah di pusat kota sebagai sentra kegiatan dakwah dan ibadah umat muslim. Selain itu Cokronagoro I memerintahkan pembuatan bedug dengan ukuran sangat besar yang bertujuan agar dentuman bunyinya terdengar sejauh mungkin sebagai panggilan waktu salat untuk berjamaah di masjid ini.

Sama seperti bahan pembuatan masjid yang menggunakan kayu jati pilihan, bedug besar ini pun disepakati dibuat dari pangkal (bonggol) kayu jati bang bercabang lima (dalam ilmu bangunan Jawa/Serat Kaweruh Kalang, disebut pohon jati pendowo). Daerah tempat pohon jati ini berasal adalah Dusun Pendowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi.

Konon, pohon jati yang digunakan untuk membuat bedug ini sebelumnya dianggap sebagai pohon keramat yang tak boleh ditebang. Kyai Irsyad seorang ulama dari Loano yang juga dipanggil Mbah Junus akhirnya berhasil menebang sekaligus mematahkan mitos keramat pohon jati tersebut.

Ukuran atau spesifikasi bedug ini, panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng. Tercatat, bedug raksasa berjuluk Kyai Bagelen ini sekarang sudah berusia 172 tahun.

TEMPO

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Selasa, 27 Juli 2021