JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 4 Agustus 2021

Ramadan, Produksi Brem Madiun Meningkat 5 Kali Lipat

Reporter :

Editor : Kodrat setiawan


Rabu, 24 Juni 2015 03:59 WIB

Brem Majalengka. TEMMPO/Ivansyah

TEMPO.CO, Madiun - Produsen brem di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, meningkatkan produksi lebih dari lima kali lipat selama Ramadan. Mereka memasok makanan khas berbahan baku sari tapai ketan ini untuk memenuhi permintaan pasar yang selalu melonjak drastis setiap libur Lebaran.

"Saat hari biasa, pengolahannya menunggu ketan jadi tapai dulu, lamanya seminggu. Kalau sekarang, setiap hari memproses," kata Supiati, 43 tahun, produsen brem di Dusun Tempuran, Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Selasa, 23 Juni 2015.

Sepekan sebelum Ramadan, Supiati, yang dibantu lima pekerja, memasak 125 kilogram ketan per hari. Ketan sebanyak itu kemudian ditaburi ragi agar berfermentasi. Setelah menjadi tapai, diambil sarinya dan dimasak lagi di atas kompor berbahan bakar kayu. 

Kemudian diangkat dan diaduk bersama bahan kue untuk memberikan beragam pilihan rasa, di antaranya anggur, stroberi, jahe,jeruk, cokelat, dan durian. Namun ada pula yang tanpa diberi perasa tambahan alias orisinal.

Setelah diaduk dengan menggunakan mixer, Supiati melanjutkan, sari tapai ketan ditiriskan di papan panjang dan dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Kemudian dijemur di bawah sinar matahari dan brem siap dikemas ke dalam kardus ataupun stoples. "Untuk kemasan di dalam stoples kami buat dua tahun ini saat akan Lebaran. Biasanya buat parsel," ujar dia.

Penjualan brem buatan Supiati meningkat. Pembeli dari sejumlah kota, seperti Kediri, Surabaya, dan Jakarta, telah memesan produk makanan khas tersebut. Mayoritas di antaranya mengenal produk itu karena dipasarkan melalui jejaring Internet alias online

"Kalau penjualan melalui distributor masih belum ada peningkatan. Tapi kami tetap menyiapkan stoknya sejak awal puasa," ujar Supiati.

Prihantini, 58 tahun, produsen brem lain di Dusun Sumberejo, Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, mengungkapkan hal senada. Menurut dia, penjualan makanan khas itu belum mengalami peningkatan signifikan hingga hari keenam Ramadan. 

Meski demikian, ia tetap bersiap meningkatkan produksi. "Minggu ini mulai ditambah," ucap dia saat ditemui terpisah.

Dalam sehari, menurut Prihantini, ketan yang diproses menjadi brem sebanyak 3 kuintal. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan pada hari biasa yang hanya 1,5-2 kuintal. Penambahan bahan baku itu untuk mencukupi permintaan konsumen yang diprediksi meningkat setelah Lebaran. "Pembeli biasanya para pemudik yang ingin membawa oleh-oleh dari sini," ujar Prihantini.

NOFIKA DIAN NUGROHO

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 4 Agustus 2021

Terpopuler