JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Selasa, 27 Juli 2021

Nasihat Ramadan dari Gus Mus  

Reporter :

Editor : Kodrat setiawan


Minggu, 21 Juni 2015 04:14 WIB

Mustofa Bisri. TEMPO/Dimas Aryo

TEMPO.CO , Jakarta - Menjelang Ramadan lalu, tokoh Nahdlatul Ulama, Achmad Mustofa Bisri, mencuit lewat akun Twitter @gusmusgusmu. Selain berdoa, kiai yang akrab disapa Gus Mus tersebut kembali menampilkan tautan puisinya menyambut Ramadan.

“Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kekuatan untuk berpuasa hanya karena-Mu. Berilah kami kekuatan untuk melawan nafsu, syahwat, dan amarah. Amin,” cuit Gus Mus, Kamis, 17 Juni 2015.

Selain itu, Gus Mus menjawab cuitan netizen yang menanyakan ihwal kata-kata sajak Gus Mus untuk Ramadan. Berikut ini isi puisi bertajuk “Nasihat Ramadan buat Mustofa Bisri” yang dibuat Gus Mus pada 1992 itu.

Mustofa, Jujurlah kepada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadan bulan ampunan Apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa, Ramadan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu Darimu hanya untukNya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa, Ramadan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu Dan bulanmu serahkanlah semata-mata kepadaNya. Bersucilah untukNya. Bersalatlah untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah. Sucikan tanganmu. Berpuasalah. Sucikan mulutmu. Berpuasalah. Sucikan hidungmu. Berpuasalah. Sucikan wajahmu. Berpuasalah. Sucikan matamu. Berpuasalah. Sucikan telingamu. Berpuasalah. Sucikan rambutmu. Berpuasalah. Sucikan kepalamu. Berpuasalah. Sucikan kakimu.Berpuasalah. Sucikan tubuhmu. Berpuasalah. Sucikan hatimu. Sucikan pikiranmu. Berpuasalah. Suci kan dirimu.

Mustofa, Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedaifan dan melembutkan rasa. Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa. Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin Lebih tahan sedikit berpuasa Tapi hanya kau yang tahu Hasrat dikekang untuk apa dan untuk siapa.

Puasakan kelaminmu untuk memuasi Ridha Puasakan tanganmu untuk menerima Kurnia Puasakan mulutmu untuk merasai Firman Puasakan hidungmu untuk menghirup Wangi Puasakan wajahmu untuk menghadap Keelokan Puasakan matamu untuk menatap Cahya Puasakan telingamu untuk menangkap Merdu Puasakan rambutmu untuk menyerap Belai Puasakan kepalamu untuk menekan Sujud Puasakan kakimu untuk menapak Sirãth Puasakan tubuhmu untuk meresapi Rahmat Puasakan hatimu untuk menikmati Hakikat Puasakan pikiranmu untuk meyakini Kebenaran Puasakan dirimu untuk menghayati Hidup Tidak. Puasakan hasratmu hanya untuk Hadhirat Nya.

Mustofa, Ramadan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu. Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian keserakahan, ujub, riya, takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu?

Mustofa, Inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati. Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu Yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini. Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti Ramadan-Ramadan yang lalu.

REMBANG, Sya’ban 1413 H.

KODRAT

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Selasa, 27 Juli 2021