JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

3 'Tank Palestina' Ramaikan Takbiran Masjid Kauman  

Reporter :

Editor : Stefanus Teguh Edi Pramono


Minggu, 27 Juli 2014 21:12 WIB

Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin (tengah) didampingi Ketua umum MUI Din Syamsuddin (kedua kiri) saat mengumumkan penetapan satu Syawal 1435 H dalam usai menggelar sidang Itsbat Syawal 1435 H di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, 27 Juli 2014. Tempo/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Yogyakarta - Suasana meriah malam takbiran menghiasi kawasan Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, Ahad petang, 27 Juli 2014. Sebanyak 13 peserta perwakilan seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta malam ini mengirimkan delegasinya untuk mengikuti takbiran bersama di seputaran masjid di utara Keraton Yogyakarta itu. (Baca: Pemerintah Tetapkan Besok 1 Syawal)

Yang cukup mencuri perhatian warga dan wisatawan dalam takbir bertema Jogja colour of night itu, kehadiran sedikitnya tiga replika tank yang menyerupai dimensi aslinya di halaman depan masjid. Tank berukuran panjang sekitar 3 x 2 meter itu dipenuhi dengan tulisan seruan "Save Palestine" dan gambar prajurit bercadar pada seluruh badannya. (Baca: Takbiran, Hujan dan Kilat Bayangi Jakarta)

"Kami membuat tank ini tiga pekan," kata Barry, dari kelompok remaja Masjid Baitu Abrar Wirobrajan, Kelurahan Patangpuluhan, Yogyakarta, kepada Tempo. Menurut dia, tank berbahan kertas sak semen seberat 30 kilogram itu dibuat untuk menyentil pemerintah Indonesia yang dinilai setengah hati membela kemerdekaan Palestina. "Indonesia seharusnya mampu membantu Palestina lebih maksimal agar tak terus ditindas, misalnya mengirim bantuan peralatan militer," kata Barry.

Selain tank-tank yang ikut berkeliling dengan rute seputaran Keraton Yogya itu, juga tampak berbagai replika yang dibuat peserta lain dengan ukuran jumbo. Seperti tiruan kapal pinisi seukuran truk angkut pasir hingga replika Masjid Istiqlal penuh warna-warni yang dibuat perhimpunan Putri Muhammadiyah.

Panitia kegiatan takbir Masjid Gede Kauman, Ahmada Tri Wibowo, menuturkan tahun ini peserta takbir sengaja dibatasi. Dari tahun lalu 17 peserta menjadi 13 peserta. "Agar lebih tertib dan tak membuat aura masjid kalah riuh," kata dia.

Soal tema yang diusung, Jogja colour of night, Tri menuturkan sebagai pencair ketegangan seusai menghadapi pemilu presiden. "Tiap peserta dari kecamatan yang menjadi basis pendukung siapa pun, kami undang tanpa kecuali, agar bersatu lagi sebagai warga pengusung damai," kata dia. Syaratnya, konsep-konsep takbiran yang dibawakan tak mengandung unsur SARA dan politik.

PRIBADI WICAKSONO

Berita Lainnya:

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Terpopuler