JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Kamis, 5 Agustus 2021

Jalur Alternatif Subang Mangkrak

Reporter :

Editor : Istiqomatul Hayati


Jumat, 18 Juli 2014 03:58 WIB

TEMPO.CO , Subang:Pemerintah Kabupaten Subang, Jawa Barat belum mewujudkan janjinya untuk merampungkan perbaikan dua jalur alternatif utama pengurai kemacetan di jalur utama Pantai Utara (Pantura) dan jalur tengah H-10 menjelang puncak arus mudik berlangsung.

Tempo yang menelusuri dua ruas jalur alternatif tersebut pada Kamis, 17 Juli 2014 melihat perbaikan terkesan asal-asalan, terutama dalam proses pembetonan. Di ruas jalur Sukamandi-Purwadadi-Kalijati sepanjang 22 kilometer misalnya, dua titik lokasi di Rancabango dan Purwadadi yang sedang dalam proses pembetonan malah ditinggalkan para kontraktornya.

"Sudah dipasangi besi beton, kok belum dicor juga. Apakah kontraktornya kehabisan biaya," ujar Fauzi, warga Rancabango sambil menggerutu. "Gara-gara proses pembetonan ditinggalkan, tiap waktu terjadi kemacetan di Rancabango dan Purwadadi."

Hasan, warga Pabuaran menyayangkan belum kelarnya pembetonan menjadi ajang mencari kesempatan dalam kesempitan oleh para "Pak Ogah." "Jadinya menganggu sekali," ujar Hasan.

Pembetonan di ruas jalur alternatif utama Sarengseng-Pabuaran-Cipeundeuy sepanjang 18 kilometer juga belum rampung. Pengerjaannya hanya separo badan jalan di titik lokasi Bangkuang dan Kadawung.

Kepala Kepolisian Resor Subang Ajun Komisaris Besar Chicko Ardwiatto, mengaku sudah mensurvei jalur alternatif Sukamandi-Purwadadi-Kalijati dan Sarengseng-Pabuaran-Cipeundeuy. "Kami pastikan keduanya tak akan dipakai sebagai jalur alternatif saat puncak arus mudik," ujar Chicko. "Sangat berbahaya jika dipaksakan."

Untuk mengatasi kemacetan di jalur utama Pantura dan Tengah, ia akan memaksimalkan sistem pengamanan di kedua jalur yang menjadi urat nadi menuju arah Jawa tersebut. "Di jalur Pantura kami akan mengamankan pagar betis," ujar Chico.

Sekretaris Daerah Subang, Abdurakhman, mengapresiasi kebijakan pihak kepolisiann untuk tidak memaksanakan penggunaan dua jalur alternatif itu sebagai pengurai kemacetan di jalur Pantura dan tengah itu.

"Kalau dipaksakan akan merusak konstruksi beton yang sudah ada," ujar Abdurakhman. Kecuali itu, masalah kerawanan kecelakaan lalau-lintas bisa dihindarkan.

NANANG SUTISNA

Berita Terpopuler:Tri Karya Usulkan Tiga Nama Pengganti Ical  Pamer Busana Muslimah, Syahrini Di-bully Netizen  Kiper Oblak Bergabung ke Atletico Madrid  Hanya 15 Persen Peserta SBMPTN Diterima di PTN  

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Kamis, 5 Agustus 2021