JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Warung Dadakan Pantura, Dari Pijat Hingga Karaoke

Reporter :

Editor : Juli Hantoro


Rabu, 31 Juli 2013 03:05 WIB

Warung dadakan di jalur pantura, Subang, Jawa Barat. TEMPO/Nanang Sutisna

TEMPO.CO , Subang: Arus mudik selalu jadi waktu yang tepat untuk mendulang rupiah bagi warga Desa Batangsari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Puluhan warga tampak mulai membangun warung dadakan di sepanjang jalaur utama Pantai Utara Jawa arah Jakarta-Cirebon.

Warga menaruh harapan pada ribuan kendaraan yang bakal melintas di jalur favorit pemudik tersebut. Warung-warung itu akan menyediakan berbagai keperluan makanan dan minuman terutama untuk pemudik yang menggunakan sepeda motor.

Rusman, salah seorang warga Kampung Kedung Jaya, Desa Batang Sari, mengaku sudah empat tahun berjualan di warung dadakan arus mudik di jalur Pantura yang menjadi jalur tersibuk sepanjang masa mudik lebaran di Indonesia itu.

"Alhamdulillah, hasil jualan sepanjang arus mudik cukup buat bekal lebaran," ujar Rusman. Dalam sepekan jualannya, ia berhasil memperoleh keuntungan Rp 3 juta.Adapun modal yang dikeluarkan buat mendirikan warung dadakan berukuran 2X4 meter dengan bahan baku bambu cukup Rp 1,2 juta dan buat modal belanja barang jualanya hanya Rp 3,8 juta.

Endar, warga lainnya, mengaku hanya berjualan selama arus mudik saja artinya hanya sepekan saja. Dengan modal Rp 1 juta jualan minuman dan mie instan, ia mengaku beroleh keuntungan Rp 500 ribu per hari.

"Tapi, yang ramainya hanya dua hari saja yakni saat puncak arus mudik," ujar perempuan berambut ikal itu.

Di ruas jalur Pantura Kedung Jaya, warga sekitar mendirikan warung dadakan mudik lebaran diantara tubir sawah dan badan jalan. Jumlahnya tercatat ada 18 orang.

Puluhan warung dadakan lainnya, berderet-deret di ruas jalur Warung Nangka. Dan ada ratusan lainnya yang mendidikan warung sama di sepanjang Pantura mulai dari Gamon, Patokbeusi, Pamanukan-Pusakanagara. Tapi, yang paling banyak ada di ruas antara Sukamandi-Ciasem.

Di ruas tersebut, warung-warung dadakannya dibangun di atas lahan yang cukup luas. Tapi, ada juga pemilik warung pinggiran Pantura yang kemudian menyulapnya dengan tambahan fasilitas, misalnya WC, jasa pijat relaksasi dan karaokean.

"Peminatnya cukup banyak juga," ujar Endang. "Untungnya juga lumayan, sehari bisa sampai Rp 1 sampai Rp 2 jutaan."

Makanya, dia berani mengeluarkan modal yang cukup besar untuk memanjakan para calon pengunjungnya saat puncak arus mudik berlangsung.

Kepala Polsek Patokbeusi, Komisaris Junaedi A.R, merespon positif bertaburannya warung dadakan menjelang puncak arus mudik loebaran di jalur Pantura tersebut."Kehadiran mereka memang sangat dibutuhkan, terutama untuk berteduh dan berisitirahat para pemudik setelah menempuh perjalanan jarak jauh," ujarnya.

NANANG SUTISNA|JULITopik terhangat:Anggita Sari | Bisnis Yusuf Mansur | Kursi Panas Kapolri

Baca juga:Jokowi Blusukan: `Pemerintah Kebobolan`Dipaksa Minta Maaf, Ahok Telpon Haji LulungDahlan Iskan Bakal Calon Presiden dari Demokrat

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Terpopuler