JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Kartu Lebaran, Budaya Literasi yang Ditinggalkan  

Reporter :

Editor : Rini Kustiani


Kamis, 25 Juli 2013 14:44 WIB

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

TEMPO.CO, Semarang - Jumlah peminat kartu Lebaran menurun drastis sejak layanan surat elektronik dan media sosial menjamur. Hingga pertengahan puasa, PT Pos Indonesia Semarang belum mencatat adanya pengguna kartu Lebaran berkirim ucapan.

"Untuk kalangan masyarakat sudah tak ada yang menggunakan kartu Lebaran," kata Manajer Pelayanan PT Pos Kota Semarang, Afdi Rizal, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 25 Juli 2013.

Afdi menyatakan penggunaan kartu Lebaran saat ini hanya masih berlaku bagi perusahaan dan instansi pemerintah untuk menyampaikan ucapan lintas instansi. Rata-rata dkirim dalam Kota Semarang dan ke Jakarta, sesuai dengan jaringan bisnis maupun struktur tingkat tinggi.

Minimnya minat masyarakat menggunakan kartu Lebaran, menurut dia, akibat kemajuan teknologi informasi di dunia maya dan telepon seluler yang lebih efektif untuk menyampaikan salam dan ucapan. Padahal, menurut Afdi, keberadaan kartu Lebaran bisa menjadi catatan dan bukti fisik sebuah persahabatan. "Memang kelemahannya tidak efektif karena perlu waktu pengiriman," Afdi menjelaskan.

Bahkan menggunakan kartu Lebaran cenderung berbelit belit. Selain harus membeli kartu, biaya pengiriman juga mencapai Rp 1.500 per 20 gram berat kartu. Dia memperkirakan kartu Lebaran yang dikirimkan oleh lembaga bisnis maupun instansi pemerintah baru terlihat satu pekan menjelang Lebaran.

Budayawan asal Semarang, Heri Candra Santoso, mengatakan kartu Lebaran berperan ganda dalam konstruksi budaya masyarakat, yakni adanya nilai estetika dari ungkapan melalui kartu dan lebih elegan dibandingkan mengucapkan selamat lewat pesan pendek telepon seluler. Di sisi lain, keberadaan kartu Lebaran tak hanya menjadi media untuk menuangkan ungkapan permaafan melalui tulis-menulis, namun produk budaya tulis yang semakin langka.

"Ada unsur literasi dalam sebuah budaya berkartu Lebaran. Sayang, sekarang hanya segelintir personal yang masih mempertahankan itu," kata Heri, yang juga pengelola Komunitas Lereng Medini.

EDI FAISOL

Topik terhangat:Bayi Kate Middleton | FPI | Bisnis Yusuf Mansur | Aksi Chelsea di GBK

Berita lainnya:Chelsea Terancam Batal Tampil di GBKBrimob Serbu Sabhara, Kapolda Jateng Turun TanganDemokrat Puji Peretas Situs Web FPI Serba Pertama di Bandara KualanamuMakna di Balik Nama Anak William-Kate

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Terpopuler