JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Pesona Lamang Tapai di Bulan Ramadhan

Reporter :

Editor : Zed abidien


Jumat, 12 Juli 2013 17:02 WIB

Lamang Tapai. TEMPO/Febri Yanti

TEMPO.CO, Padang - Sumatera Barat dikenal dengan wisata kulinernya. Banyak makanan khas yang menjadi idola. Apalagi di bulan Ramadhan ini.

Salah satunya, Lamang Tapai. Makanan dari beras ketan ini dipadu dengan kuah dari tapai ketan hitam. Nikmat disantap setelah kumandang azan magrib bekumandang.

Bahan utamanya, beras ketan putih, sedikit garam, santan kelapa dan daun pandan. Untuk membuatnya diperlukan sebilah ruas bambu muda.

Setelah dicuci, beras ketan putih itu dicampuri santan kelapa dan daun pandan serta diberi sedikit garam. Lalu, dimasukan ke buluh bambu kira-kira sepanjang 60 cm, yang didalamnya sudah dilapisi daun pisang. Dibakar di atas tungku hingga berwarna kecoklatan. Diangkat dan dinginkan.

Untuk kuahnya, ada tapai yang terbuat dari ketan hitam yang dikukus. Lalu taburi ragi yang telah dihancurkan hingga jadi bubuk. Ditutup dengan daun pisang. Didiamkan selama tiga hari di tempat yang kering, lalu jadilah tapai ketan hitam.

Lamang pun siap dihidangkan dengan irisan sebesar dua sentimeter. Disirami kuah tapai, lamang terasa lezat dan manis, bercampur sedikit rasa asam. Lamang tapai ini juga mengeluarkan aroma khas, menggugah selera untuk berbuka.

Salah satu penjual lemang tapai di Kota Padang adalah Masinis. Pria berusia 56 tahun ini telah hampir 12 tahun menjual lamang tapai di Pasar Raya Padang. Yang khas dari dagangan Masini, lamang buatannya ada yang dicampuri pisang. Cara membuatnya, pisang dimasukkan ke buluh bambu bersamaan dengan beras ketan putih.

"Saya juga ada jual lamang baluo dengan gula merah dan lamang ketan hitam," ujar Masinis, Kamis 11 Juli 2013.

Beraneka lamang tersebut, dijual dengan berbagai harga. Misalnya, satu buluh lamang ketan putih dijual dengan harga Rp40 ribu. Lamang pisang seharga Rp50 ribu dan lamang baluo dibandrol Rp60 ribu untuk satu buluh bambu.

Untuk lamang iris, Masinis menjualnya dengan harga Rp2000 hingga Rp4000 per iris. "Satu hari itu biasanya saya menghabiskan 16 ruas buluh bambu," ujarnya.

Sementara, untuk tapai dijual seharga Rp5000 setiap satu gelasnya. Biasanya, untuk satu buluh bambu lamang itu membutuhkan 4 gelas tapai.

Masinis mengaku, memasuki awal bulan Ramadhan ini banyak masyarakat mencari lamang tapai ini. Sebab, makanan khas Tanah Datar ini dihidangkan untuk menyambut Ramadhan, lebaran dan hari besar lainnya. Termasuk hidangan di pesta pernikahan.

Makanan ini dapat ditemui di beberapa pasar tradisional Sumatera Barat. Seperti di Kabupaten Batusangkar, Payakumbuh, Bukittinggi dan kota Padang.

Bagi Eni, salah satu penggemar lamang tapai di Padang, lamang tapai adalah hidangan wajib di saat berbuka. "Ya, untuk berbuka. Sudah tradisi setiap bulan Ramadhan menyantap lamang tapai ini," ujar warga Mata Air Padang ini. Menurutnya, setiap ke pasar ia membeli lamang setengah buluh bambu itu. Dan satu gelas tapai.

Bagi warga Padang, lamang tapai telah dikenal sejak lama. Makanan khas Minangkabau bahkan sempat diabadikan menjadi sebuah lagu oleh  penyanyi asal Minangkabau, Elly Kasim, dengan judul "Lamang Tapai".

ANDRI EL FARUQI

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Terpopuler