JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 28 Juli 2021

Pemudik Borong Kaus Khas Yogyakarta

Reporter :

Editor :


Kamis, 23 Agustus 2012 13:14 WIB

Kemacetan yang terjadi di Jalan Pabringan selatan Pasar Beringharjo, Yogyakarta, (12/8/2012). Kemacetan ini terjadi karena membludaknya pengunjung pasar di hari Minggu terakhir sebelum hari raya Idul Fitri yang berburu baju baru dan oleh-oleh. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Yogyakarta - Kedatangan para pemudik di kota budaya Yogyakarta memberi berkah bagi para pedagang oleh-oleh, tak tekecuali penjual kaus bergambar unik khas Yogyakarta.

Di sepanjang Jalan Malioboro, kaus yang dibanderol seharga Rp 12 hingga Rp 85 ribu per potong menjadi incaran pemudik dan wisatawan.

Salah satu gerai Dagadu, pembuat kaus unik khas Yogyakarta di Jalan Pakuningratan, melayani lebih dari 1.500 pembeli dalam sehari. "Parkiran selalu penuh, pemudik datang dan pergi mencari kaus yang desainnya khas Yogyakarta," kata Junno Mahesa, Marketing Communication Officer PT. Aseli Dagadu Djokdja, Kamis, 23 Agustus 2012.

Di Kota Gudeg itu, menurut Junno, Dagadu membuka empat gerai, yakni di Pakuningratan diberi nama UGD (unit gawat Dagadu), di Malioboro Mal diberi nama Posyandu (pos layanan Dagadu) di Ambarrukmo Plaza diberi nama DPRD (djawatan pelayanan resmi Dagadu). Ada pula di alun-alun utara dengan nama Posyandu 2.

Khusus untuk UGD, saat lebaran kali ini diberi julukan Roemah Moedik. Masyarakat yang ingin membeli kaus Dagadu Aseli Djogdja memang harus ke outlet yang resmi. Sebab, kata dia, banyak kaus yang menjiplak nama Dagadu yang dijual di tempat lain.

Roemah Moedik untuk yang kedelapan kalinya berada di Pakuningratan, dibuka mulai 20 sampai 25 Agustus 2012. Ada satu sudut ruangan di gerai UGD yang nyaman dengan beberapa properti yang sudah direka sedemikian rupa dengan pertimbangan artistik yang matang. Antara lain kursi sofa yang nyaman untuk sekadar 'leyeh–leyeh' atau bersantai sambil menikmati pelapis dinding ditutup kertas bergelombang seperti relief.

Juga ada beberapa permainan sederhana yang sudah dimodifikasi seperti kursi goyang, kuda–kudaan, jungkat-jungkit, dan beberapa permainan lainnya. Juga ada photo corner bagi yang suka bergaya di depan kamera serta permainan memanah berhadiah bingkisan.

Saat ditanya soal omzet penjualan kaus, Direktur PT. Aseli Dagadu Djokdja, Ahmad Noor Arief mengatakan ada peningkatan signifikan. "Kalau bulan puasa sepi pembeli, tetapi pada lebaran meningkat tajam," katnya. Rata-rata dalam satu tahun, menurut Ahmad, Dagadu meraup pendapatan sampai Rp 1,5 miliar.

Bagi pemudik yang mencari kaus khas Yogyakarta selain Dagadu, bisa mencari alternatif lainnya di sepanjang Jalan Malioboro, seperti Oblong Van Jogja (OVJ). Di sepanjang jalan Malioboro juga mudah dijumpai orang-orang yang disebut buser (buru sergap) pencari kaus khas Yogya.

Selain mereka yang berjualan kaus di gerai resmi, para pedagang di pelataran toko juga ketiban rezeki. "Omzet penjualan kaus kami meningkat hingga 300 persen dibandingkan hari-hari biasa," kata Wicaksono, pedagang kaus di Jalan Kauman, Yogyakarta.

MUH SYAIFULLAH

Berita terpopuler lainnya:Manfaat Hubungan Intim Tanpa Kondom bagi Istri Kerajaan Akui Foto Telanjang Itu Pangeran Harry10 Selebriti yang Meninggal karena HIV/AIDSAda Gerakan "Anti-Obama" dalam Militer AS?Banding KPK Vonis Nunun DitolakSebab Media Inggris Tak Muat Foto Bugil HarrySertifikat Kematian Natalie Wood DiubahObama Terima Ancaman PembunuhanSukotjo Ingin Suap ke Perwira Polisi DibongkarUskup Jakarta Tahbiskan Tiga Imam

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 28 Juli 2021

Terpopuler