JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Kamis, 5 Agustus 2021

Bandung Kekurangan Pembantu Cadangan  

Reporter :

Editor :


Kamis, 16 Agustus 2012 05:16 WIB

Evy Nurlaila, calon TKW menunjukan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri yang diserahkan pihak Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada "Safari Ramadhan dan Job Fair 2012" di Medan, Sumut, Rabu (25/7). ANTARA/Irsan Mulyadi

TEMPO.CO , Bandung: Banyak warga Bandung yang kesulitan mendapat pembantu infal atau tenaga serep pada musim Lebaran kali ini. Penyebabnya antara lain karena musim panen dan pembantu susah mendapat tiket kereta api.

Permintaan pembantu infal setiap hari ke Yayasan Karya Mitra Jaya, Kiaracondong, misalnya, mulai mengalir sejak 13 Agustus 2012. Dari belasan peminta, yayasan itu baru mendapat lima pembantu. ”Jumlah pembantu infal sekarang enggak ada setengahnya dibanding Lebaran lalu,” kata Rino, pegawai yayasan penyalur pembantu itu, Rabu, 15 Agustus 2012.

Sulitnya mendapat pembantu yang didatangkan dari Kebumen dan Banyumas, Jawa Tengah, itu akibat tiket kereta api. Sejak aturan baru yang mewajibkan penumpang kereta menunjukkan KTP atau kartu penduduk, banyak pembantu infal yang terganjal. Sebagian masa berlaku KTP para pembantu, ujar Rino, sudah habis.

Mereka juga tak bisa diberangkatkan dengan bus ke Bandung. “Ongkosnya mahal, bisa dua kali lipat,” ujarnya. Ongkos bus juga akan memotong banyak komisi pembawa dan penyalur pembantu. Karena itu, kata Rino, mereka hanya mau naik kereta api ekonomi yang ongkosnya hanya Rp 25 ribu dari Kebumen.

Di tempat penyalur pembantu lainnya yang didatangi Tempo, terjadi kondisi serupa. ”Setiap hari ada 10 orang yang minta, tapi paling cuma 5 (pembantu) yang bisa,” kata Mun Sugianto, pengelola Yayasan Purna Karya dekat Stasiun Kereta Api Bandung.

Permintaan itu sejak 10 Agustus lalu dan diperkirakan hingga H-2 sebelum Lebaran.

Berkurangnya pembantu infal di Bandung tahun ini, kata Mun, karena mereka sedang panen padi di kampung. Mereka juga berasal dari Kebumen dan Banyumas, Jawa Tengah.

Di Bandung, pasaran upah pembantu infal berkisar Rp 800 ribu per 10 hari. Biasanya, uang sejumlah itu upah kerja selama sebulan. Besaran upah itulah yang mendorong Sudarsi mau menjadi pembantu infal di Bandung. Lebaran tahun lalu di Jakarta, ia diupah Rp 1,4 juta selama kerja dua pekan. ”Senang, ketagihan, tapi yang penting halal,” ujarnya saat menunggu dijemput calon majikannya di Yayasan Purna Karya.

Demi uang agar anaknya bisa kuliah selulus SMK, Sudarsi rela tak berlebaran bersama keluarganya di kampung. Suaminya kuli bangunan di Jakarta. ”Nggak tahu kapan kami bisa kumpul,” ujarnya. Setelah Lebaran, ia berencana menjadi TKI di Taiwan. ”Takut ada, tapi saya ingin mengubah nasib,” ujar ibu dua anak itu.

ANWAR SISWADI

Berita lain:Arkeolog Ini Temukan Piramida via Google EarthNasib Penggalian Bunker di Bawah Kantor JokowiSepupu Kate Middleton Tampil Telanjang di PlayboyKPK Bongkar Barang Bukti Kasus SimulatorKuasa Hukum Polri Nilai UU KPK Lemah

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Kamis, 5 Agustus 2021