Indonesia dan Saudi Ingin Bangun Gedung Percetakan Al-Quran

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi berbincang saat mengikuti rapat penetapan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 1444 H di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 15 Februari 2023. Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Agama resmi menetapkan biaya haji atau biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) 1444 H/2023 M sebesar Rp49,8 juta. TEMPO/M Taufan Rengganis
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi berbincang saat mengikuti rapat penetapan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 1444 H di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 15 Februari 2023. Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Agama resmi menetapkan biaya haji atau biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) 1444 H/2023 M sebesar Rp49,8 juta. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan Duta Besar Arab Saudi Faisal Abdullah Al Amudi membahas sejumlah proyek kerja sama baru antara Indonesia dan Saudi. Salah satunya yaitu pembangunan Gedung Percetakan Al-Quran.

"Ini sangat penting untuk menopang kebutuhan Al-Quran bagi masyarakat Indonesia yang sangat tinggi. Kita tahu kualitas cetakan Al-Quran Saudi sangat baik,” kata Yaqut dalam pertemuan yang berlangsung di rumah dinas Dubes Saudi di Jakarta, Selasa, 18 April 2023.

Meski demikian, belum diketahui lokasi pendirian gedung ini. Namun Dubes Faisal mengaku akan segera mengkomunikasikan hal tersebut dengan Menteri Urusan Islam Saudi.

Sebagai wakil pemerintah Saudi, Faisal menegaskan dukungnya terhadap program penguatan hubungan antar dua negara. "Segera setelah pertemuan ini, saya akan mem-follow up kepada otoritas yang berwenang di Saudi. Baik beberapa program maupun yang terkait dengan haji dan hubungan dagang,” kata dia.

Selain soal proyek gedung percetakan, keduanya juga bicara isu lain seperti jalur fast track haji. Fast track merupakan program kerja negara lain dengan Saudi untuk mempercepat kedatangan jemaah haji.

Selama ini, fasilitas fast track baru tersedia di Bandara Soekarno-Hatta. Yaqut juga menyebut bahwa Menteri Haji Saudi Tawfiq F Al-Rabihah telah menyatakan bahwa negaranya memang hanya menyediakan satu layanan fast track untuk satu negara. 

Namun mengingat jemaah haji Indonesia adalah yang terbesar, Yaqut berharap dapat tambahan setidaknya satu atau dua lagi fasilitas layanan fast track. Yaqut juga menyebut pihaknya sedang koordinasi dengan Angkasa Pura II agar dapat memindahkan fast track di Terminal II ke Terminal III Soekarno Hatta agar lebih besar.

"Ini juga sesuai dengan masukan dari Kemenhaj Saudi. Saya juga sudah sampaikan kepada Menteri BUMN,” kata Yaqut.

Bahas visa furoda

Isu ketiga yang dibahas yaitu soal visa furoda, visa untuk haji furoda alias haji khusus dari undangan pemerintah Saudi. Tahun lalu, kata Yaqut, ada sejumlah kasus berkenaan dengan visa furoda. Tidak sedikit jemaah yang gagal berangkat, padahal sudah mengeluarkan biaya cukup besar.

Bahkan, ada juga jemaah yang sudah sampai di Jeddah harus dipulangkan karena permasalahan visa. Untuk itu, Yaqut berharap tahun ini tidak ada masalah soal visa furoda. “Saya juga berharap tahun ini para tokoh agama Islam Indonesia mendapat undangan haji dari raja," kata dia.

Isu terakhir yaitu soal proyek gedung Islamic Center di Ibu Kota Nusantara atau IKN. Rencana ini pernah dibahas bersama Menteri Urusan, Dakwah, dan Bimbingan Islam Saudi Abdullatif bin Abdulaziz Al Al-Sheikh saat berkunjung ke Indonesia pada 2022.

"Saat ini, tengah disiapkan tanahnya. Kami juga menunggu desain Islamic Center tersebut sesuai masukan dari Menteri Urusan Islam,” kata Yaqut.

Menurut Yaqut, pembangunan Islamic Center sangat strategis dan akan menjadi pintu masuk kerja sama antara Indonesia dan Saudi, selain yang terkait dengan urusan haji. Kerja sama itu juga akan sangat berpengaruh dalam hubungan kedua negara.

Sementara itu, Faisal menyebut Kerajaan Arab Saudi tidak hanya merencanakan untuk membangun Islamic Center. Lebih dari itu, Kerajaan Arab Saudi juga akan membangun masjid yang megah dengan nama Arab Saudi.

“Saya sudah mengunjungi beberapa kota di Indonesia. Jadi tidak hanya di IKN, tapi bisa juga di Jakarta, Surabaya, Bandung atau Medan dan tempat lainnya. Pembangunan masjid yang megah ini wajar karena Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia,” kata dia.

Pilihan Editor: Warga Hila Maluku Tengah Gelar Tradisi Pawai Obor Keliling Kampung di Malam ke-27 Ramadhan