Kapan Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia Dimulai?

Reporter

Editor

Nurhadi

Tradisi mudik di Indonesia berlangsung menjelang peringatan Hari Raya Idul Fitri. Mayoritas warga perantauan akan mudik ke kampung halaman dengan menggunakan transportasi umum seperti kereta api atau bus. Namun, tak sedikit warga yang memilih mengenakan sepeda motor dan mobil pribadi untuk berkunjung ke kampung halaman. ANTARA
Tradisi mudik di Indonesia berlangsung menjelang peringatan Hari Raya Idul Fitri. Mayoritas warga perantauan akan mudik ke kampung halaman dengan menggunakan transportasi umum seperti kereta api atau bus. Namun, tak sedikit warga yang memilih mengenakan sepeda motor dan mobil pribadi untuk berkunjung ke kampung halaman. ANTARA

TEMPO.CO, JakartaSelama hampir dua tahun pemerintah melarang masyarakat melakukan aktivitas mudik. Namun, tahun ini pemerintah akhirnya mencabut aturan larangan mudik seiring situasi pandemi Covid-19 yang kian membaik. Hal ini disambut baik masyarakat karena aktivitas mudik telah menjadi tradisi menjelang Lebaran di Indonesia. 

Melansir laman resmi Kemendikbud, mudik merupakan aktivitas yang dilakukan oleh para perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Istilah “mudik” diduga kuat berasal dari bahasa Jawa “mulih dilik” berarti pulang sebentar. Pun ada yang menyebutkan mudik bersumber dari kata “udik”, artinya kembali ke asal. 

Secara historis, sebagaimana dilansir dari pssat.ugm.ac.id, tradisi mudik sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam. Kala itu, petinggi Kerajaan Majapahit menempatkan sejumlah pejabatnya ke titik-titik daerah kekuasaan. Saat dimintai raja untuk menghadap, pejabat tersebut lantas mengunjungi kampung halamannya. 

Kebiasaan itulah yang kemudian dikaitkan dengan lahirnya fenomena mudik. Meski demikian, istilah mudik kian populer pasca kemerdekaan RI, tepatnya pada era 1960-an. Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Yuanda Zara dalam sebuah diskusi mengatakan, kepindahan ibu kota RI dari Yogyakarta ke Jakarta membuat pembangunan besar-besaran terjadi di Jakarta. 

Hal itu tentu membuat banyak sektor industri yang kemudian membutuhkan tenaga kerja. Imbasnya, masyarakat berduyun-duyun datang ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya untuk melakukan migrasi sekaligus mencari penghidupan yang layak di sana. 

Setelah sekian lama para pendatang mengumpulkan pundi-pundi penghasilan di kota perantauan, maka timbullah rasa rindu akan kampung halamannya terutama saat menjelang hari raya Idul Fitri. Dari situlah muncul fenomena mudik secara massal yang dilakukan para pekerja yang sebelumnya merantau ke Jakarta. 

Sejak saat itu, pemerintah mulai memberikan perhatian serius terhadap kegiatan mudik tersebut. Misalnya, pada 1960-an, jalur kereta api bekas peninggalan masa kolonial mulai dihidupkan kembali oleh pemerintah guna mengakomodasi para pemudik. Selain itu, moda transportasi lain pun kian menjadi saran pilihan bagi pemudik. Hingga akhirnya, kini mudik menjadi tradisi yang identik dengan Lebaran. 

HARIS SETYAWAN