Kisah Muslim di Ukraina saat Ramadan, Tetap Berbagi Meski Ada Invasi Rusia

Reporter

Editor

Yudono Yanuar

Umat Muslim Ukraina salat Id di Kyiv pada Lebaran 2015. Dok. Ummah
Umat Muslim Ukraina salat Id di Kyiv pada Lebaran 2015. Dok. Ummah

TEMPO.CO, Jakarta - Muslim di Ukraina menghadapi Ramadhan yang sulit tahun ini karena invasi Rusia di negara itu terus berlangsung. Namun banyak umat Islam di negeri itu yang berencana menggunakan musim amal untuk mengumpulkan uang guna mendukung mereka yang membutuhkan.

“Kami harus menyesuaikan semuanya,” kata Niyara Nimatova, seorang warga keturunan Tatar Krimea dan ketua Liga Muslim Ukraina, seperti dikutip Aljazeera, Jumat, 1 April 2022

Pada hari pertama bulan puasa, yang jatuh Sabtu, dia berencana untuk menyiapkan makan malam berbuka puasa dengan sekelompok keluarga pengungsi yang tinggal bersamanya di pusat Islam di Chernivtsi.

“Banyak Muslim pergi ke luar negeri dan mereka yang masih di Ukraina membutuhkan dukungan,” kata Nimatova melalui telepon dari kota Ukraina barat tempat dia menbgungsi dari provinsi tenggara Zaporizhzhia, yang sebagiannya berada di bawah kendali Rusia.

Lima minggu setelah Rusia menginvasi Ukraina, lebih dari 10 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, termasuk sekitar empat juta orang yang melarikan diri ke luar negeri, menurut PBB.

Muslim berjumlah sekitar satu persen dari populasi Ukraina, negara mayoritas Kristen Ortodoks. Sebelum perang, Ukraina adalah rumah bagi lebih dari 20.000 warga negara Turki, serta sejumlah orang Turki, terutama Tatar Krimea.

Persiapan Ramadan menjadi sulit dan emosional tahun ini karena banyak bom jatuh di negara itu dan jam malam diberlakukan, membatasi pergerakan di malam hari ketika keluarga berkumpul untuk berbuka puasa.

Tergusur oleh perang, banyak juga yang mengungsi di tempat  jauh dari rumah mereka, jaringan dukungan komunitas dan teman-teman – namun, mereka bertekad untuk memanfaatkan periode puasa ini dengan sebaik-baiknya.

“Kami harus siap melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pengampunan Tuhan, berdoa untuk keluarga kita, jiwa kita, negara kita, Ukraina,” kata Nimatova, yang suaminya, Muhammet Mamutov, adalah seorang imam.

Berikutnya: Tetap berbagi