Kapolres Sragen Minta Anak Buahnya Lebih Baik Mengalah Sama Pemudik Ngeyel

Reporter

Petugas gabungan memeriksa kelengkapan surat tugas atau surat izin keluar masuk (SIKM) pengendara saat penyekatan arus balik menuju Kota Bandung di pintu tol Buah Batu, Bandung, Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2020. Penyekatan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pendatang dari luar Kota Bandung guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Petugas gabungan memeriksa kelengkapan surat tugas atau surat izin keluar masuk (SIKM) pengendara saat penyekatan arus balik menuju Kota Bandung di pintu tol Buah Batu, Bandung, Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2020. Penyekatan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pendatang dari luar Kota Bandung guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

TEMPO.CO, Sragen - Kapolres Sragen, AKBP Yuswanto Ardi instruksikan anak buahnya agar mengalah dan menghindari perdebatan dengan pemudik ngeyel saat menjalankan tugas penyekatan larangan mudik.

“Wis kita ngalah wae, daripada menimbulkan kontraproduktif. Sudah capek bertugas, masyarakatnya malah ngeyel, adu mulut. Nanti framing-nya malah polisi yang dianggap arogan,” tuturnya seperti dikutip Tempo dari Teras.ID, Minggu 2 Mei 2021.

Kapolres Yuswanto Ardi mengatakan operasi keselamatan candi dan penyekatan terhadap pemudik itu semata-mata untuk menekan potensi penyebaran covid-19.

Mabes Polri, kata dia telah memerintahkan penyekatan baik di jalur tol maupun arteri. Namun polisi juga tak bisa serta merta langsung memutarbalikkan semua kendaraan luar kota.

“Pak Kapolda sudah mengarahkan ke kita. Kebanggaan kita bukan membalikkan pemudik ke asalnya. Tapi rohnya melakukan pencegahan covid-19,” tegasnya.

Larangan mudik, kata dia, bertujuan untuk menekan penyebaran covid-19 akibat perpindahan warga dari kota-kota dengan kasus tinggi ke daerah Sragen yang saat ini relatif masih hijau.

Namun bukan berarti, larangan itu berlaku saklek. Ia menyebut masih ada beberapa golongan yang karena kondisinya, dibolehkan mudik.

“Seperti orang yang kerja harian yang kemudian sudah diberhentikan atau nggak kerja lagi. Kalau di kota nggak kerja kan nggak bisa makan. Kalau yang seperti itu dibolehkan, tapi semua tetap menaati prosedur,” ucapnya

Kapolres tak memungkiri, seketat apapun penyekatan, tidak mungkin 100 persen tersekat dan pasti masih ada pemudik yang lolos sampai kampung.

Para pemudik tersebut tak mungkin diminta kembali ke asalnya. Akan tetapi, demi keselamatan, pemudik maupun keluarganya diminta secara sadar melapor ke Satgas di desanya agar dilakukan pemeriksaan dan pantauan.

“Ditanya dulu sudah vaksin atau belum. Kalau sudah, dicek di aplikasi. Kalau ternyata belum divaksin harus lapor. Yang penting begitu sampai di rumah, lakukan isolasi mandiri,” katanya.

TERAS.ID | DELFI ANA HARAHAP

Baca juga: Kakorlantas: Pemudik Jangan Langsung Diputarbalikkan, Kedepankan Sikap Humanis