JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Saran Dokter agar Puasa Anak Lancar

Reporter : Antara

Editor : Yayuk Widiyarti


Rabu, 28 April 2021 11:22 WIB

Ilustrasi anak kecil berpuasa. parenthub.com.au

TEMPO.CO, Jakarta - Dr. Ayi Dilla Septarini, Sp.A dari Universitas Indonesia menganjurkan orang tua untuk mengatur jadwal bermain anak saat Ramadan agar tidak kehabisan energi dan kuat puasa. Setelah sahur dan salat subuh, anak boleh tidur sejenak sebelum jadwal sekolah dimulai.

Setelah subuh sebaiknya batasi kegiatan anak. Jangan biarkan anak jalan dalam jarak jauh atau melakukan olahraga yang menguras tenaga.

"Biarkan mereka bermain satu jam sebelum Maghrib," kata anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.

Ketika anak mulai berlatih puasa Ramadan, tubuh menyesuaikan diri terhadap rasa lapar. Orang tua mungkin akan melihat anak-anak lemas dan mengantuk. Beri anak waktu tidur siang namun jangan sampai berlebihan.

"Tawarkan anak aktivitas seperti belajar mengaji, membaca buku, mewarnai, atau aktivitas yang menyenangkan lain," ujarnya.

Ajari anak puasa secara bertahap sesuai umur. Ayi mengatakan sebetulnya tidak ada patokan baku kapan waktu yang tepat anak berpuasa. Anak balita pun boleh berpuasa. Hanya saja, sebaiknya anak dapat berpuasa secara bertahap, tidak langsung sampai Maghrib.

“Pada usia 4 tahun, anak cukup hanya dilatih dengan puasa selama 3-4 jam tanpa makan. Sedangkan usia 5-7 tahun dikategorikan sebagai usia yang cukup untuk menanamkan pengertian tentang puasa dan makanan. Pada usia ini, anak-anak cenderung sudah mulai berpikir kritis. Inilah masa-masa paling penting dalam kehidupan mereka,” kata Ayi.

Oleh karena itu, sesuaikan waktu berbuka sesuai kemampuan anak. Ketika baru belajar puasa, balita yang biasanya sarapan pukul 07.00 bisa diajari untuk menunda hingga pukul 09.00 atau 10.00. Setelah sarapan yang tertunda, ajak balita lanjut berpuasa hingga boleh makan lagi pukul 15.00, kemudian lanjut lagi berbuka puasa bersama pada Maghrib.

Dia mengatakan pada umumnya hal-hal yang membuat anak lemah saat berpuasa adalah karena tidak bertahap sesuai kemampuan. Anak yang berusia di bawah 7 tahun merupakan kelompok yang lebih berisiko mengalami hipoglikemia apabila berpuasa.

Selain itu, kelompok usia ini lebih rentan mengalami kekurangan cairan. Perubahan pola tidur akibat bangun sahur juga dapat berdampak pada kemampuan di sekolah.

“Maka dari itu, agar anak tetap fit dan tidak lemas, lakukan durasi puasa secara bertahap. Jika tidak kuat, silakan berbuka karena anak-anak hukumnya belum wajib berpuasa," tuturnya.

Dia menambahkan jika balita masih belum mampu bertahan, berikan sedikit kelonggaran. Dalam satu bulan, balita mungkin akan melakukan peningkatan ketahanan berapa jam bisa menahan lapar. Bahkan, bisa jadi di akhir Ramadhan mereka mampu tidak sarapan hingga pukul 12.00.

Saat berbuka puasa, dia menyarankan orang tua memberi asupan seperti kurma atau sup buah untuk mengganti kalori yang hilang. Setelah salat Maghrib, berikan anak makan besar. Lalu, setelah salat tarawih, anak bisa diberi kudapan bergizi seperti kroket atau risoles.

Dokter memberikan kiat untuk orang tua yang ingin mendorong anak termotivasi untuk berpuasa. Memberikan hadiah sederhana agar anak bersemangat boleh-boleh saja, seperti membuat makanan atau minuman favorit untuk berbuka puasa.

Tanamkan juga keinginan berpuasa dalam hati anak dengan cara memberikan pendidikan agama secara tersirat. Kemudian, beri anak pengenalan sederhana mengenai manfaat puasa untuk kesehatan, seperti untuk memperbaiki sel-sel kekebalan tubuh yang rusak agar ia tidak mudah sakit sehingga bisa belajar dan bermain lebih lama. Hal ini terjadi karena saat berpuasa sistem kekebalan di dalam tubuh akan menghemat energi dengan cara meregenerasi sel-sel kekebalan tubuh yang rusak atau sudah tua untuk diganti dengan sel imunitas yang baru.

"Dengan memahami manfaat puasa untuk kesehatan, anak-anak tentu akan lebih bersemangat dalam menjalankan puasa," kata spesialis anak di Primaya Hospital Bekasi Barat itu.

Orang tua juga bisa menumbuhkan semangat kompetitif. Misalnya, orang tua bisa memberi contoh kepada si kecil mengenai teman-teman seusia yang sudah mulai berpuasa. Dengan hal seperti ini, anak tentu akan kembali bersemangat dan tidak mau kalah dengan teman-temannya yang sudah mulai berpuasa. Terakhir, proses itu penting jadi ajakan puasa secara bertahap.

Baca juga: Manfaat Puasa Ramadan untuk Anak-anak, Ajarkan Disiplin dan Pola Makan Terjadwal

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Sabtu, 24 Juli 2021

Terpopuler