JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Melihat Tradisi Ibadah Suluk di Aceh Saat Ramadan

Reporter : Antara

Editor : Ninis Chairunnisa


Senin, 26 April 2021 06:58 WIB

Jamaah suluk menutupi kepalanya dengan selendang dan surban saat mengikuti zikir bersama di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Reusak, Samatiga, Aceh Barat, Sabtu, 17 April 2021. Ibadah ini diikuti warga berusia antara 28 tahun sampai 96 tahun dengan tujuan untuk memohon ampunan, membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. ANTARA/Syifa Yulinnas

TEMPO.CO, Jakarta - Pondok pesantren atau dayah Cuco Tgk Syech H Mudo Wali Al Chalidy Seuramoe Darussalam di Desa Beuradeun, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar menjadi salah satu lokasi warga Aceh melaksanakan ibadah Suluk. Tradisi itu kerap dilakukan masyarakat Serambi Mekah di bulan Ramadan.

Puluhan orang yang akan mengikuti Suluk berkumpul di sebuah bangunan berkonstruksi kayu sekitar 5x15 meter di waktu zuhur. Jemaah laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh pembatas kain. 

Usai salat zuhur, jemaah langsung duduk bersila menutupi kepala. Jemaah laki-laki menutupinya dengan kain sorban, sedangkan jemaah perempuan menggunakan mukena. Sikap itu menandakan mereka hendak melaksanakan tawajuh atau fokus menghadap Allah yang menjadi bagian dari ibadah Suluk.

Suluk merupakan kegiatan berzikir secara terus-menerus mengingat Allah SWT, meninggalkan pikiran dan perbuatan duniawi hanya untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridaan dari Allah SWT. Aktivitas dzikir ini merupakan pengajian ilmu dari Tarekat Naqsyabandiyah yang diajarkan di dayah di kaki bukit Gampong Beuradeun Aceh Besar tersebut.

Tidak terlihat jelas wajah para jemaah ketika berzikir lantaran tertutup kain sorban atau mukena. Hal itu merupakan syarat yang harus dilakukan agar para jemaah benar-benar kusyuk berzikir dan mengingat Allah tanpa terganggu pandangan dari luar.

"Tidak hanya dengan mengatakan atau mengucapkan kalimat-kalimat, nama-nama Allah, tidak sekadar ucap. Tetapi memang dilakukan secara lahir batin berzikir kepada Allah SWT," kata pimpinan Dayah Cuco (cucu) Tgk Syech H Mudo Wali Al Chalidy Seuramoe Darussalam, Tgk Harwalis Harun Wali

Ketika tawajuh hendak dimulai, enam pemimpin atau khalifah duduk berhadapan dengan para jemaah yang menghadap kiblat. Jemaah pun secara bersama terus memanjatkan doa sembari memutar tasbih. Tawajuh dilakukan empat kali dalam sehari, diantaranya setelah salat subuh, zuhur, asar dan terakhir usai salat tarawih.

Pada tahun-tahun sebelumnya, jemaah Suluk di Pesantren Seramoe Darussalam Aceh hanya bagi laki-laki dewasa. Namun tahun ini merupakan kali pertama Suluk di sana diikuti oleh jemaah perempuan yang mayoritasnya adalah kaum ibu-ibu.

"Jumlah yang ikut Suluk di tempat kita bertambah dari tahun lalu, kebetulan tahun ini ada jamaah perempuan, yang tidak ada pada tahun-tahun sebelumnya," kata Harwalis.

Menurut Harwalis, jemaah Suluk di tempatnya tidak berasal dari masyarakat terdekat, melainkan berasal dari daerah lain. Mereka tidak dibenarkan untuk pulang atau keluar dari perkarangan pesantren sampai kegiatan selesai hingga waktu yang telah ditentukan.

"Jadi mereka tidak pulang ke rumah, untuk istirahat nya sudah ada waktu-waku tertentu yang telah ditetapkan," kata Harun.

Harwalis mengatakan, jemaah yang mengikuti Suluk tahun ini di pesantren yang ia pimpin sebanyak 75 orang, mulai dari perempuan hingga laki-laki. "Jumlah yang hadir tahun ini ada perempuan sebanyak 15 orang. Laki-laki lebih kurang sekitar 50 orang. Jadi jumlahnya di bawah seratus," katanya.

Kegiatan ibadah Suluk setiap Ramadan di pesantren yang ia pimpin itu sudah berjalan sejak 11 tahun yang lalu. Di sana, Suluk dilaksanakan selama 10 hari. Namun sebenarnya juga bisa dilakukan 20 sampai 40 hari tergantung dari hasil musyawarah para ahli Suluk setiap tahunnya.

Baca juga: Masjid Agung Lhouksumawe Bagikan Kanji Rumbi Gratis Selama Ramadan

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Minggu, 25 Juli 2021

Terpopuler