JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 12 Mei 2021

Puasa Ramadan Jadi Momen untuk Bangkit di Masa Pandemi dengan 4 Tips Ini

Reporter : Antara

Editor : Yunia Pratiwi


Rabu, 21 April 2021 20:59 WIB

Ilustrasi wanita berkerudung. Freepik.com

TEMPO.CO, Jakarta - Tahun ini kedua kalinya umat muslim menjalan ibadah puasa Ramadan di masa pandemi Covid-19. Namun hal ini tidak menjadi alasan untuk tidak bersemangat menjalaninya. Justru Ramadan ini menjadi momen bangkit di tengah pandemi.

Psikolog Analisa Widyaningrum membagikan empat kiat untuk menjadikan puasa sebagai momen untuk bangkit di tengah pandemi COVID-19. Beberapa hal di antaranya adalah mengatur asupan nutrisi hingga mengatur rutinitas menjadi hal yang positif sehingga bermanfaat di tengah masa sulit ini.

“Pertama jagalah asupan nutrisi mulai dari cairan hingga makanan. Meski kita menahan nafsu makan di masa puasa selama 30 hari, kita harus memberikan tubuh kita nutrisi seimbang untuk makanan dan cairan. Kenapa? karena itu berpengaruh besar pada otak dan mood,” kata Analisa dalam konferensi pers virtual, Rabu, 21 April 2021.

Selama menjaga nutrisi dengan seimbang tubuh akan menjadi lebih terasa bugar dan sehat, di samping itu juga memicu semangat untuk melakukan kegiatan di masa pandemi.  Kedua adalah menjaga waktu istirahat tetap cukup, pastikan waktu tidur anda memenuhi aturan 8 jam untuk menjaga pikiran dan tubuh tetap sehat. “Ada fase bernama deep sleep, di fase itu tubuh kita membuat sistem imun terbaiknya. Dengan meningkatnya imun tubuh tentu mood ikut membaik,” kata Analisa.

Tips ketiga adalah menjaga rutinitas olahraga selama puasa Ramadan. Berolahraga selama puasa masih diperlukan untuk menjaga komposisi tubuh, tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk berolahraga di masa puasa yaitu sekitar 15-20 menit. Di samping itu dengan berolahraga proses transportasi oksigen di dalam tubuh dapat bekerja dengan lebih baik sehingga memberikan rasa yang nyaman bagi tubuh.

Kiat terakhir adalah dengan berbagi kepada sesama sehingga tubuh dapat melepaskan hormon yang membuat manusia bahagia.  “Jadi memang ada penelitian bahwa orang Indonesia itu memiliki tingkat kemurahan hati paling tinggi di dunia. Nah dari sisi psikologi, kegiatan berbagi dengan sesama itu rupanya menjadi momen orang mendapatkan makna. Orang yang sudah ditahap itu bisa mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani hidup meski di tengah masa sulit karena ada hormon yang disebut hormon oksitosin itu bisa memberikan rasa bahagia saat seseorang berbagi,” kata wanita yang merupakan pendiri dari Analisa Personality Development Center (APDC).

Analisa mengatakan berbagi yang dimaksud tidak melulu terkait materi, tapi juga hal yang paling sederhana. “Berbagi senyum misalnya, itu hal simpel yang bisa dibagikan kepada orang lain sehingga bisa memberikan makna kepada semua orang. Sehingga kita bisa mengajak orang lain untuk bangkit meski di tengah pandemi,” tutupnya.

Baca juga: Olahraga saat Puasa, Ini 5 Hal yang Perlu Diperhatikan

 

KOMENTAR