JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Rabu, 12 Mei 2021

Makna di Balik Peci Meukutop Aceh yang Laris Manis Saat Ramadan

Reporter : Antara

Editor : Kodrat Setiawan


Jumat, 16 April 2021 10:43 WIB

Seorang perajin sedang menjahit songkok atau peci. TEMPO | Didit Hariyadi

TEMPO.CO, Aceh - Peci kupiah meukutop (khas Aceh) menjadi incaran masyarakat Aceh saat Ramadan 1442 Hijriah. Peci itu memperlihatkan nilai-nilai tradisi Aceh.

"Iya peci kupiah meukutop ini ramai yang membeli sejak tiga hari sebelum puasa, dan sampai hari ini," kata salah seorang pedagang peci Mansur, di Banda Aceh, Kamis, 15 April 2021.

Kata Mansur, untuk kupiah meukutop tersebut dijualnya juga tidak terlalu mahal yakni berkisar antara Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu per peci.

Selain kupiah meukutop, kata Mansur, peci jenis lain yang paling diburu pada momentum Ramadan ini adalah peci berwarna hitam, baik polos maupun yang berlogo rencong Aceh.

"Peci kupiah Aceh ini dan peci biasa yang hitam ini paling banyak yang membeli saat-saat puasa," ujarnya.

Masyarakat mulai ramai membeli peci sejak beberapa hari sebelum masuk Ramadan, dan diperkirakan masih meningkat hingga hari ini atau puasa ketiga.

Bahkan, pendapatan mereka bisa mencapai dua kali lipat ketimbang hari-hari biasanya. Kalau hari normal mereka hanya memperoleh sekitar Rp 1 juta per hari.

"Kalau hari hari biasa paling kami ada laku sekitar Rp 1 juta, tetapi kalau saat Ramadan ini bisa mencapai Rp 2 juta. Biasanya nanti menjelang hari raya juga meningkat," kata Mansur.

Terpisah, pemerhati sejarah dan Budaya Aceh Tarmizi A Hamid mengatakan, pada kupiah meukutop tersebut melekat identitas Aceh. Karena itu siapa saja yang memakainya harus menjaga kebudayaan Aceh.

"Sudah melekat identitas Aceh pada peci itu, ketika kita memakainya, maka yang harus menjaga nilai keacehan," kata Tarmizi.

Tarmizi menjelaskan, kupiah meukutop tersebut memiliki makna tersendiri. Warna merah pada kupiah itu berarti kepahlawanan, kuning kenegaraan, hitam hukum, serta hijau bermakna agama dan lingkungan.

"Kalau motif tangganya, artinya tangga pertama adalah hukum, kedua adat, ketiga qanun, dan tangga keempat reusam," ujar pria yang akrab di sapa Cek Midi itu.

Kemudian, Cek Midi juga menuturkan bahwa peci meukutop tersebut mulai digalakkan kembali olehnya pada 2016. Dia mengaku sering memakai di berbagai kesempatan, dan ikut menjelaskan makna yang tersirat di dalamnya.

ANTARA

Baca juga: Penjualan Peci di Meulaboh Naik 150 Persen Selama Ramadan

 

KOMENTAR