JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Kamis, 6 Mei 2021

Wabah Virus Corona Mengacaukan Ramadan yang Dinantikan

Reporter : Non Koresponden

Editor : Suci Sekarwati


Rabu, 14 April 2021 12:30 WIB

Anak-anak pengungsi Suriah menaiki kendaraan untuk kembali ke rumah mereka, karena takut akan wabah penyakit virus corona (COVID-19) di kamp-kamp pengungsian yang padat, di Dayr Ballut, Suriah, 11 April 2020. REUTERS/Khalil Ashawi

TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang bulan puasa, beberapa negara di dunia mengalami peningkatan kasus infeksi virus corona. Kondisi ini membuat umat Muslim menjadi tak leluasa saat menjalankan aktivitas Ramadan.  

Di Pakistan, kasus baru positif Covid-19 yang semula sudah sempat menurut, sekarang mengalami kenaikan menjadi lebih dari 5 ribu kasus baru per hari.

Sedangkan Iran, pada Sabtu, 11 April 2021, mulai memberlakukan lockdown selama 10 hari ke depan di tengah naiknya gelombang infeksi virus corona menyusul libur tahun baru Persia, Nowruz selama dua pekan.

Di Suriah, wabah virus corona telah berdampak perekonomian negara itu, di mana hal ini juga terjadi di negara lain. Abdel al-Yassin waswas apa yang akan disantapnya untuk buka puasa nanti.  

“Untuk sekadar makan fattoush saja, susah,” kata al-Yassin.

Fattoush adalah salad, yang menjadi makanan pokok selama bulan puasa di Suriah.

Anak-anak menyantap makanan saat berbuka puasa bersama di antara reruntuhan bangunan di Atarib, Suriah, 7 Mei 2020. Puluhan warga berbuka puasa bersama di tengah ancaman wabah virus Corona. REUTERS/Khalil Ashawi

Ini sudah tahun kedua al-Yassin menghabiskan Ramadan dalam sebuah tenda di dekat perbatasan Turki – Suriah.  Dia terpaksa mengungsi pada tahun lalu setelah terjadi serangan oleh militer Rusia sehingga membuat ratusan ribu warga di kampung halamannya lari menyelamatkan diri.

“Harapan kami adalah pulang ke rumah,” kata al-Yassin, yang tinggal dalam sebuah tenda bersama istri dan tiga anaknya. Sebagian besar kebutuhan makannya, bergantung pada bantuan.

Kondisi Lebanon juga tak lebih baik. Perekonomian negara ini remuk, begitu pula dengan krisis keuangan di sana gara-gara pandemi Covid-19 dan ledakan dahsyat yang terjadi di Ibu Kota Beirut pada Agustus 2020 lalu.

“Kami akan mengalami sebuah periode ketika beberapa orang berpuasa apakah itu Ramadan atau pun tidak Ramadan. Bagaimana dengan orang lain, yang juga kehilangan pekerjaan mereka?,” kata Natalie Najm, yang bekerja di sektor asuransi, kendati begitu dia masih saja kesulitan membeli makanan karena harganya yang mahal.

Baca juga: Jangan Hanya Dapat Lapar dan Dahaga, Inilah 5 Hikmah di Balik Puasa Ramadan

Sumber: voanews.com

 

KOMENTAR