Arus Balik H+3, Waspadai 8 Titik Macet Jalur Babat Blora

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kemacetan di jalan tol. ANTARA FOTO

    Ilustrasi kemacetan di jalan tol. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Pengguna jalan di jalur tengah Babat, Lamongan-Blora, diimbau waspadai delapan titik macet pada arus balik H+3 Lebaran 2019.

    Baca juga: Jalur Puncak Padat, Kemacetan Terjadi Sejak Pukul 07.00 Hingga Siang Hari

    Jalur tengah antara Kecamatan, Babat, Lamongan, Jawa Timur menuju ke Kota Blora, Jawa Tengah, berjarak sekitar 100 meter. Di jalur penghubung Kota Surabaya-Semarang ini melewati sejumlah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Tetapi di jalur tersebut terdapat sedikitnya tujuh titik yang kerap terjadi macet.

    Tujuh titik macet itu, mulai dari timur, terjadi di pertigaan Pasar Babat. Pertigaan itu menghubungkan Kabupaten Lamongan-Jombang-Tuban dan Bojonegoro. Biasanya kemacetan terjadi mulai dari jalan di bawah Jembatan Cincim—penghubung Lamongan-Tuban, hingga Pasar Babat sekitar dua kilometer. Penyebabnya, selain karena jalan kecil (lebar 8 meter) juga padat lalu lintas karena pertemuan arus dari empat kabupaten.

    Titik rawan macet kedua, berada di jalan depan Pasar Baureno, Bojonegoro. Di jalan ini, penyebab macet karena ada pasar tumpah dimana para pedagang kerap berjualan di pinggir jalan.

    Titik potensi macet ketiga, yaitu di perempatan Pasar Sumberejo di mana lalu lintas kerap macet karena jalan sempit tetapi pendaraan padat.

    Titik rawan macet keempat, berada di jembatan Kecamatan Kapas yang karena sempit juga lokasinya berdekatan dengan pasar. Kebetulan tak jauh pasar juga terdapat proliman (arus pertemuan dari lima jalan) dimana lokasinya berada di pinggir kereta api. “Jalur ini (proliman Kapas) memang rawan macet,” ujar Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resort Bojonegoro Ajun Komisaris Polisi Aristianto pada Tempo, saat Operasi Ketupat Semeru 2019, awal Lebaran kemarin.

    Titik rawan macet kelima ada di Kota Bojonegoro, terutama di ruas jalan nasional sepanjang lima kilometer. Mulai dari Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajah Mada, Jalan Untung Suropati, depan Taman Rajekwesi hingga di Bundaran Jetak. Arus macet biasanya terjadi pada siang hingga sore hari dimana arus balik melintas di jalan.

    Sedangkan titik rawan macet keenam, kerap terjadi di depan Pasar Kalitidu dan pertigaan jalan di kecamatan itu. Pemakai jalan datang dari arah timur-barat dan juga dari arah selatan, terutama di Kecamatan Ngasem. Pedagang kaki lima juga kerap mempersempit jalur nasional itu.

    Titik rawan kemacetan ketujuh ada di perempatan Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Maklum, terjadi pertemuan arus lalu lintas dari arah timur-arah selatan dari Ngawi dan arah barat dari Kota Cepu dan Blora. Biasanya macet terjadi pada siang hingga malam.

    Titik rawan kemacetan kedelapan ada di Jembatan Sungai Bengawan Solo yang menghubungkan antara Jawa Timur, tepatnya di Desa Dengok, Padangan, Bojonegoro menujuke Cepu, Blora. Kemacaten terjadi bundaran pertigaan Ketapang, Kecamatan Kota Cepu. Polisi lalu lintas di Blora, kerap mengurangi kepadatan lalu lintas. Saat puncak arus balik, macet bisa sampai tiga-empat kilo.”Ya, sering macet,” kata Widodo, tukang parkir di Ketapang, Cepu pada Tempo, Sabtu 8 Juni 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.