Mudik Lebaran 2018, Angka Kecelakaan Turun 32 Persen

Reporter:
Editor:

Stefanus Teguh Edi Pramono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan pemudik sepeda motor melintasi Jembatan Suramadu, Surabaya, Rabu, 13 Juni 2018. ANTARA

    Ribuan pemudik sepeda motor melintasi Jembatan Suramadu, Surabaya, Rabu, 13 Juni 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Jenderal Tito Karnavian mengatakan sepanjang arus mudik 2018, angka kecelakaan mengalami penurunan hingga 32 persen dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan data Operasi Ketupat 2018, hingga sehari sebelum Lebaran atau H-1, jumlah kecelakaan mencapai 899 kejadian.

    "Sedangkan tahun lalu mencapai 1.319 kejadian," kata Tito di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis, 14 Juni 2018. Menurut Tito, penyebab utama kecelakaan adalah pengendara tak waspada dan pelanggaran batas kecepatan.

    Baca juga: Lebaran Sebentar Lagi, Ingat 4 Jurus Ini agar Tak Terpuruk Sakit

    Sepeda motor menjadi alat transportasi yang paling banyak terlibat dalam kecelakaan selama arus mudik Lebaran 2018. Tercatat 307 sepeda motor terlibat kecelakaan di jalur mudik. Sedangkan di jalur non-mudik, ada 996 sepeda motor terlibat kecelakaan.

    Berdasarkan catatan kepolisian, jumlah korban meninggal juga sama mengalami penurunan sekitar 59 persen. Tahun ini, korban meninggal sebesar 193 orang. Pada periode yang sama 2017, korban meninggal mencapai 478 orang.

    Baca juga: Mudik Jalur Udara Padat, Kemenhub Minta Warga Bersiap Delay

    Kepala Bagian Penerangan Satuan Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Hubungan Masyarakat Polri Komisaris Besar Yusri Yunus, mengatakan polisi telah menilang 28.236 pengendara. "Polisi juga menegur 39.371 pengendara," katanya.

    Operasi Ketupat 2018 berlangsung 7-24 Juni atau selama 18 hari. Ada 117 ribu personel gabungan TNI dan kepolisian yang dilibatkan dalam operasi ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.