Jumat, 20 Juli 2018

Serunya Ramadan di Uni Emirat Arab, Berkumpul dan Bermain

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Semacam gorengan tradisional di Uni Emirat Arab, banyak diburu pembeli selama ramadan. Getty Images/Francois Nel

    Semacam gorengan tradisional di Uni Emirat Arab, banyak diburu pembeli selama ramadan. Getty Images/Francois Nel

    TEMPO.CO, Jakarta - Umat Muslim di Uni Emirat Arab bersyukur karena mengalami momen indahnya kebersamaan selama Ramadan tahun ini. Beberapa kegiatan selama Ramadan diakui telah membuat rasa persaudaraan semakin kuat.

    Bagi Muslim di Uni Emirat Arab, Ramadan tidak bisa berakhir tanpa banyak pertemuan. Acara utama setiap malam adalah kumpul-kumpul. Acara berkumpul kerap dilakukan oleh kerabat agar semua orang dapat berbuka puasa bersama.

    Baca: Relawan Yordania Kumpulkan Makanan Hotel untuk Warga Miskin

    Tidak hanya mempertemukan orang dalam jumlah besar, tetapi Ramadan membuat mereka bisa duduk berkumpul dengan waktu yang lebih lama dari biasanya di malam hari.

    Afra Hassan, 26, mengatakan selain menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dekat, pertemuan semacam itu cenderung diperluas ke keluarga besar juga.

    “Mengunjungi keluarga, tetangga, dan teman-teman dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya kita terlepas dari apakah itu terjadi selama masa-masa sulit, karena kewajiban atau selama perayaan dan bulan seperti Ramadan,” kata Hassan, Al Arabiya, 13 Juni 2018. 

    Beberapa percaya, pertemuan menenangkan hubungan antara orang-orang karena suasana pada saat malam Ramadan dianggap lebih ramah. Shamma Abdulaziz, 42, mengatakan keluarga cenderung menjadi lebih dekat dan memaafkan.

    Kumpul-kumpul Ramadan bukan murni urusan religius tetapi juga menyajikan makanan dan permainan. Keluarga biasanya tetap bersama setelah salat Tarawih selesai.

    Badriya Alhindaassi, 19, mengatakan dia menghabiskan malam dengan sepupunya kebanyakan bermain kartu, urutan, Uno, dan paling sering carrom, yang merupakan salah satu permainan tradisional.

    Dalam tradisinya, Ramadan di Uni Emirat Arab dimanfaatkan untuk selalu berbagi makanan dengan tetangga, keluarga, dan teman-teman terdekatnya.

    Baca: Perayaan Unik Idul Fitri di Berbagai Negara, Ada Dupa dan Balon

    Masyarakat setempat juga memiliki makanan khas Ramadan, termasuk Thareed yang terbuat dari roti datar yang sangat tipis yang direndam dalam saus daging, biasanya domba. Kemudian disajikan dengan daging dan sayuran termasuk wortel, zucchini dan kentang. Hidangan ini juga dibuat dengan daging sapi atau ayam.

    Makanan khas lain adalah Harees Harees yang disajikan sebagai hidangan utama atau sebagai lauk. Ini terbuat dari daging yang dimasak perlahan dengan bulir gandum. Hidangan ini juga bisa dimasak dengan ayam.

    Untuk makanan penutup biasa disajikan Lgeimat, Ferny, dan Sagoo serta yang lainnya yang biasa disajikan seperti, Jelly dan Crème Caramel.

    Lgeimat adalah salah satu makanan penutup yang paling populer, terdiri dari adonan goreng yang sebagian besar disajikan dengan molase atau madu. Ferny terbuat dari susu, beras dan gula. Biasanya disajikan dalam mangkuk kecil yang terpisah.

    Sedangkan untuk minuman, warga MUslim Uni Emirat Arab sering memilih Vimto, Qamar al-Din atau Tang. Orang tua biasnaya minum teh atau kopi diikuti dengan makanan penutup tradisional setelah makan utama.

    Beberapa keluarga juga memasang tenda tradisional di dalam rumah mereka untuk menciptakan suasana Ramadan dan mengundang teman-teman mereka untuk berbagi tempat itu.

    Baca: Petugas Masjidil Haram Bersihkan 291 Ton Sampah Selama Ramadan

    Bagi beberapa orang momen bulan suci umat Islam di seluruh dunia tersebut juga bisa mengumpulkan orang-orang yang telah lama tidak bertemu. Biasanya mereka berjanji untuk bertemu di tempat-tempat yang telah ditentukan untuk menggelar acara buka puasa bersama.

    Menurut kepercayaan warga Uni Emirat Arab, Ramadan juga merupakan waktu yang paling tepat untuk beramal, yaitu dengan menyumbangkan uang, makanan atau pakaian kepada yang membutuhkan.

    Umat Muslim di Uni Emirat Arab tengah menjalani Laylat al-Qadr, salah satu dari 10 malam terakhir Ramadan sebelum datangnya Idul Fitri, saat orang mencoba untuk membawa diri lebih dekat kepada Tuhan melalui doa dan membaca ayat-ayat dari Alquran.


     

     

    Lihat Juga