Jumat, 19 Oktober 2018

Itikaf Ramadan di Malam Lailatul Qadar

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana itikaf di Masjid Al Iman, Bintara Jaya, Bekasi Barat, Rabu, 6 Juni 2018. TEMPO/Yudono

    Suasana itikaf di Masjid Al Iman, Bintara Jaya, Bekasi Barat, Rabu, 6 Juni 2018. TEMPO/Yudono

    TEMPO.CO, Jakarta - Rabu dinihari kemarin, adalah malam ke-21 Ramadan, malam ketika Allah memberikan pengampunan dosa seribu bulan bagi muslimin yang melakukan itikaf di masjid. Mengikuti Nabi Muhamad, sejumlah muslim akan menetap di masjid dalam 10 hari terakhir puasa Ramadan. Malam hari sampai waktu sahur mereka manfaatkan untuk itikaf, mulai dari dzikir, membaca Quran, sampai mengikuti ceramah.

    Suasana hening dan khusuk begitu terasa. Beberapa pria terlihat sedang membaca Alquran, sebagian lainnya sedang tiduran. Di bagian belakang, yang dipisahkan pembatas terlihat sejumlah jemaah putri sedang tadarus. Sejuknya pendingin ruangan dan pengaturan cahaya yang redup di Masjid Al Iman, Perumahan LKBN Antara, Bekasi Barat ini, membuat suasana terasa lebih khusuk.

    Baca: Ini 6 Masjid Nyaman untuk Iktikaf Pencari Malam Lailatul Qadar

    Beberapa masjid menjamu para tamu Rumah Allah ini dengan menyediakan berbagai keperluan mereka mulai dari tempat istirahat sampai makan dan minum selama 10 hari. Di Jakarta, masjid yang biasanya menyediakan fasilitas untuk itikaf ini di antaranya masjid milik Bank Indonesia atau Masjid At-Tin di kompleks TMII, Jakarta Timur.

    Beberapa masjid lain menyediakan tempat itikaf, namun tidak menyiapkan makanan. Di Masjid Al Iman, pengurus untuk pertama kalinya menjamu jemaah itikaf pada Ramadan ini. “Saat ini kami baru bisa menyiapkan untuk 20 jamaah putra dan 20 putri untuk yang mukim, meski peminatnya membludak. Insya Allah tahun depan bisa lebih banyak lagi,” kata Oscar Riandi, ketua Dewan Kemakmuram Masjid Al Iman.

    Namun untuk jamaah yang tidak menginap, masjid tetap terbuka. Para peserta itikaf yang tidak menginap ini biasanya datang sekitar pukul 22 dan meninggalkan masjid setelah subuh, karena mereka masih harus bekerja. Pengurus Al Iman tetap menyediakan makan sahur bagi peserta ini.

    Baca: Puncak Arus Mudik di Jalan Tol Cikampek Diperkirakan Sabtu Ini

    Oscar sendiri menjadi peserta itikaf tidak menginap, karena masih harus mengurus perusahaannya yang bergerak di bidang IT. “Nanti setelah libur lebaran, saya akan tinggal penuh di masjid,” kata Oscar, yang biasa itikaf bersama istri dan tiga anaknya.

    Peserta lain, Harun Rasyid, 64 tahun, bisa itikaf penuh di masjid selama 10 hari. Meski masih mengurus usahanya, ia bisa berdiam di masjid selama menjemput Lailatul Qadar ini. “Kalau siang sesekali saya akan buka HP barangkali ada pesan masuk menyangkut pekerjaan,” katanya.

    Harun sudah pernah menghabiskan malam itikaf ini di Mekah dan Madinah. “Kalau di sana, jamaah itikaf sepanjang malam, dan siangnya istirahat sehingga ruang masjid hanya tersisa sepertiganya,” kata Harun, yang pada Ramadan ini beritikaf di masjid bersama istrinya.


     

     

    Lihat Juga