JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Senin, 2 Agustus 2021

Anak dengan Diabetes Melitus 1 Bisa Berpuasa Ramadan, Asalkan...

Reporter : Anwar Siswadi (Kontributor)

Editor : Mitra Tarigan


Kamis, 10 Mei 2018 20:04 WIB

Ilustrasi diabetes. shutterstock.com

TEMPO.CO, Bandung - Penyakit diabetes melitus semakin banyak saja jumlahnya. Penyakit ini tidak hanya menjangkit orang dewasa, namun juga anak-anak. Apakah anak yang menderita diabetes melitus tingkat 1 bisa ikut berpuasa di bulan Ramadan? Dokter spesialis anak, dari Divisi Endokrin Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung, Faisal mengatakan anak dalam kondisi tanpa gejala sakit boleh mengikuti ibadah puasa, asal tidak memiliki tanda ini. "Seperti demam, ada tanda - tanda infeksi, dan penyakit lain yang memberatkan," katanya dalam keterangan tertulisnya.

Syarat lain yang harus dipenuhi menurut Faisal yaitu memiliki kontrol metabolik yang baik. Angkanya yaitu HbA1c di bawah 8 prerdiksi. Baca: Hari Thalassemia Sedunia, Intip Gejala Penderitanya

Fasial juga memberikan tips soal cara makan bagi anak dengan DM 1 yang berpuasa. Faisal menyarankan untuk menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, mendapat asupan cairan 1,5 - 2 liter per hari. Anak penderita DM 1 ini sebaiknya mengatur komposisi makanannya. Protein sebanyak 15-20 persen, karbohidrat 60-65 persen, dan lemak 20 persen.

Asupan makanan itu tidak sekaligus melainkan terbagi ke tiga waktu yaitu 50 persen saat berbuka, 10 persen setelah salat tarawih, dan 40 persen ketika sahur. "Jangan lupa melakukan pemeriksaan gula darah," kata Faisal.

Ketika bepergian, orang tua juga diminta selalu menyiapkan permen atau coklat agar bisa segera dikonsumsi ketika merasakan tanda-tanda hipoglikemia seperti lelah, lemas, berkeringat, pucat, atau kejang. Baca: 9 Jurus Ampuh Tangkal Varises, Jangan Menyilangkan Kaki

Saat berpuasa, aktivitas fisik anak dengan Diabetes Melitus 1 juga harus sangat diperhatikan. Mereka tetap bisa beraktivitas harian seperti bersekolah. Saat tengah hari, rehatkan sejenak sebelum memulai aktivitas latihan ringan atau sedang seperti senam dan sepeda santai. Baca: 4 Bodyguard Ini Piawai 5 Bahasa, Mahir Beladiri dan Ganteng

Apabila setelah berolahraga ini kemudian terjadi hipoglikemi, kata Faisal, anak harus menghentikan kegiatan puasa dan sesegera mungkin mengkonsumsi makanan ringan atau minuman yang mengandung glukosa. "Hipoglikemia terjadi ketika akibat gula darah terlalu rendah sehingga otak tidak mendapatkan pasokan yang baik hingga dapat membuat anak kejang dan pingsan," katanya.

 

KOMENTAR

JADWAL IMSAK DKI JAKARTA

Senin, 2 Agustus 2021

Terpopuler