Jalur-jalur Alternatif Aman Versi Perhubungan

Senin, 13 Agustus 2012 | 05:28 WIB
Jalur-jalur Alternatif Aman Versi Perhubungan
TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

TEMPO.CO , Jakarta: Direktur Lalu Lintas Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Sugihardjo, mengatakan sudah melakukan survei terhadap jalur alternatif yang bisa digunakan pemudik.

"Kami merekomendasikan jalur-jalur alternatif yang aman," kata Sugihardjo ketika dihubungi Tempo. Jalur-jalur tersebut juga mendapat penjagaan ketat dari kepolisian.

Jika pemudik ingin menuju Bogor maka jalur alternatif yang bisa dilalui, dia merekomendasikan, adalah dari Pandeglang ke arah Rangkasbitung menuju Cipanas kemudian Leuwiliang dan Bogor.

Pemudik yang dari arah Tangerang bisa menggunakan jalur Serpong ke arah Parung, kemudian menuju Cibinong.

Untuk menghindari kemacetan di daerah Cisarua dan Puncak, pemudik yang menuju Cianjur bisa memilih jalur Cibubur ke Cileungsi, kemudian Jonggol ke arah Cikalongkulon.

Untuk menghindari kemacetan di jatisari dan Sukamandi, pemudik dari arah Karawang bisa mengambil jalur ke Wadas menuju Cilamaya. Jalur alternatif aman lainnya yang direkomendasikan oleh Kementerian adalah Pamanukan menuju Binong, kemudian Pagandenbaru dan Subang.

Selain itu, jalur Sadang ke arah Kalijati, kemudian Subang menuju Buahdua dan Cikamurang, juga aman digunakan.

Untuk jalur tengah, pemudik yang akan menuju Sumedang, bisa mengambil jalur Purwakarta ke Wanayasa, kemudian Cisalak. Untuk menghindari jalur Pantura menuju Semarang, pemudik bisa berbelok dari Pekalongan ke arah Kajen, kemudian menuju Sukorejo, dilanjut ke Boja dan Ungaran.

Di jalur selatan, jalur alternatif yang aman digunakan adalah dari Nagrek ke arah Garut menuju Singaparna ke arah Tasikmalaya. Kemudian, menurut Sugihardjo, dari Tasikmalaya pemudik bisa mengambil ke arah Manonjaya ke arah Banjar, lalu ke Padaherang.

Jalur alternatif aman menuju Yogyakarta adalah Sidareja ke arah Jeruk Legi, kemudian Adipala lanjut Karang Bolong ke Petanaha. Dari Petanahan bisa melanjutkan ke Ambal, dilanjut ke Mirit dan ke arah Galur.

"Kelemahan dari jalur-jalur alternatif tersebut adalah kurangnya lampu penerangan, sehingga rawan kecelakaan. Hanya saja, untuk penjagaan sudah ketat," ujar Sugihardjo.

SYAILENDRA





Terpopuler:
Indonesia Harus Waspadai Ancaman Krisis Ekonomi

Produsen Kopi Akan Keluarkan Sertifikat Bersama

Blok Cepu Terhambat, SBY Panggil Bupati Bojonegoro

Air Asia dan Garuda Buka Rute Baru Ke Lombok

Kedelai Lokal Tidak Dilirik Pengusaha Tahu Tempe

Tata Niaga Kedelai Tunggu RUU Pangan

Pemerintah Lemah Awasi Impor Daging Sapi

Penghematan, Pelni Ganti Solar ke Gas

Empat Langkah Atasi Defisit Neraca Berjalan Indonesia

Pertamina Berikan Insentif untuk SPBU Titipan

Komentar


Bagikan Berita Ini