Kata NU dan Muhammadiyah Soal Beda Awal Puasa

Selasa, 10 Juli 2012 | 14:38 WIB
Kata NU dan Muhammadiyah Soal Beda Awal Puasa
Mengukur posisi matahari untuk penentuan awal Ramadhan. TEMPO/FULLY SYAFI

TEMPO.CO, Yogyakarta - Persyarikatan Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan 1433 Hijriah pada 20 Juli 2012. Keputusan itu kemungkinan berbeda dengan hasil sidang isbat pemerintah. Penetapan dengan metode hisab itu menjadi dasar Muhammadiyah untuk menentukan awal puasa.

"Bukan asal beda, tetapi perhitungan sesuai manhaj penentuan tanggal dengan metode hisab," kata Agung Danarta, Sekretaris Pengurus Pusat Muhammadiyah, saat ditemui di kantornya, Selasa 10 Juli 2012.

Jajaran pengurus pusat organisasi keagamaan dan kemasyarakatan Muhammadiyah tidak akan ikut serta sidang isbat yang diadakan oleh pemerintah pada 19 Juli mendatang. Alasannya, Muhammadiyah sudah tidak perlu lagi bersidang untuk menetapkan awal puasa.

Apalagi jika keputusan sidang isbat berbeda dengan Muhammadiyah, pihaknya tidak mau dianggap plinplan dalam menentukan awal puasa. Ia menambahkan, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tadjid-nya sudah menghitung hari-hari awal puasa dan Lebaran. Kumpulan para ilmuan dan ahli ilmu falak dalam organisasi itu tidak perlu diragukan lagi soal keilmuan mereka.

Dalam maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sesuai hisab hakiki wujudul hilal, ditentukan 20 Juli sebagai awal Ramadan 1433. Itu berdasarkan ijtimak menjelang Ramadan 1433 terjadi pada Kamis Wage, 19 Jumi 2012 pukul 11:25:24 WIB.

Tinggi bulan pada saat terbenam matahari di Yogyakarta -07 derajat 48' lintang selatan dan 100 derajat 21' bujur timur atau +01 derajat 38' 40" maka hilal sudah wujud atau bulan sabit sudah ada. Dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam matahari, bulan berada di atas ufuk.

"Perbedaan, kan, sudah lama terjadi. Bukan Muhammadiyah yang beda, tetapi pemerintah yang berbeda dengan Muhammadiyah," kata Agung sambil tersenyum renyah.

Ia juga menghimbau masyarakat bisa memahami, menghargai, dan menghormati adanya perbedaan tersebut serta menjunjung tinggi keputihan, kemaslahatan, ukhuwah dan toleransi dengan keyakinan masing-masing.

Menurut Nizar Ali, Ketua Tanfidiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta, dasar yang digunakan oleh Muhammadiyah memang berbeda. Jika hilal sudah ada meskipun di bawah 2 derajat, maka sudah masuk awal bulan. Namun banyak ulama yang menyatakan kalau hilal masih di bawah 2 derajat maka tidak terlihat.

Di lain pihak, Nahdlatul Ulama lebih meyakini keberadaan hilal harus memungkinkan terlihat atau imkanurru'yah sehingga dilakukan metode ru'yatul hilal. "Sebenarnya mudah untuk menyikapi adanya perbedaan itu. Dulu kalau ada perbedaan di masyarakat diselesaikan oleh qodli atau hakim. Kalau sekarang pemerintah lah," kata dia.

"Kalau ikut pemerintah lebih enak, kalau benar ya bagus. Kalau salah, pemerintah yang menanggung," kata dia sambil tertawa.

MUH SYAIFULLAH

Berita Terkait

Ahli Hisab dari 6 Kota Gelar Rukyat di Pacitan

NU Jawa Timur Tentukan Awal Puasa Sore Ini 

Awal Puasa Ditentukan Hari Ini

Kapan Ramadan Mulai? Ini Kata Menteri Agama 

PBNU Belum Tetapkan Awal Ramadan


 


 


 



Komentar


Bagikan Berita Ini